Rabu, 06 Mei 2020

Fiksionalitas dan Karya Sastra Aliran


A. Pengertian Dan Hakikat Fiksi
          1. Karya Imajiner dan Estetis
Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi, teks naratif atau wacana naratif. Fiksi berarti cerita rekaan atau cerita khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata. Fiksi menurut alterberg dan lewis (1966: 14), merupakan prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.
Fiksi pertama-tama menyaran pada prosa naratif, yang dalam hal ini novel dan cerpen bahkankemudian fiksi sering dianggap bersinonim dengan novel (Abrams, 1981 : 61). Novel sebagai sebuah karya fiksi, menawarkan sebuah dunia-dunia yang berisi model yang diidealkan, dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya. Dalam dunia kesastraan terdapat suatu bentuk karya sastra yang mendasarkan diri pada fakta. Karya sastra yang demikian, oleh Abrams (1981 : 61) disebut sebagai fiksi historis, jika yang menjadi dasar penulisan fakta biografis, dan fiksi biografis, jikayang menjadi dasar penulisan fakta biografis, dan fiksi sains, jika yang menjadi dasar penulisan fakta keilmuan. Ketiga jenis karya fiksi tersebut dikenal dengan sebutan fiksi non fiksi.
-  Kebenaran fiksi
Kebenaran dalam fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan pengarang, kebenaran yang telah diyakini “keabsahannya” sesuai dengan pandangannya terhadap masalah hidup dan kehidupan. Dunia fiksi jauh lebih banyak mengandung berbagai kemungkinan daripada yang ada di dunia nyata. Sastra dapat mengemukakan hal-hal yang mungkin terjadi, hal-hal yang bersifat hakiki dan universal (Luxemburg, dkk, 1984 : 17, Teeuw, 1984 : 243). Sastra mengemukakan berbagai peristiwa yang masuk akal dan harus terjadi berdasarkan tuntutan konsistensi dan logika cerita (Teeuw, 1984 : 121). Wellek dan Warren (1989 : 278:9) mengemukakan bahwa realitas dalam karya fiksi merupakan ilusi kenyataan dan kesan yang meyakinkan yang ditampilkan, namun tidak selalu merupakan kenyataan sehari-hari.
Aristoteles mengemukakan bahwa karya sastra merupakan paduan antara unsur  memetik dan kreasi, peniruan dan kreativitas, khayalan dan realitas. Teori mimetik menganggap bahwa fiksi hanya merupakan peniruan atau pencerminan terhadap realitas kehidupan. Fiksi,juga karya sastra pada umumnya,menurut pandangan strukturalisme, pada hakikatnya merupakan karya cipta yang baru, yang menampilkan dunia dalam bangun kata dan bersifat otonom. Artinya, ia hanya tinduk pada hukumnya sendiri dan tidak mengacu, atau sengaja diacukan, pada hal-hal yang di luar struktur karya fiksi itu sendiri.
Macam- macam pengertian Fiksi
Dunia kesastraan mengenal prosa sebagai salah satu genre sastra
Prosa dalam pengertian kesusastraan disebut fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif ( narrative discource) (dalam pendekatan struktural dan semiotik)
Fiksi berarti cerita rekaan atau cerita khayalan
Fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran kepada kebenaran sejarah .Fiksi mengacu kepada suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata.Sebagai sebuah karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan.
Alterbernd dan Lewis mengartikan fiksi sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia.
Fiksi merupkan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan
Fiksi merupakan karya imajinatif yang dilandasi oleh kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreativitas sebagai karya seniFiksi menawarkan “model-model” kehidupan sebagaimana yang diidealkan oleh pengarang sekaligus menunjukkan sosoknya sebagai karya seni yang berunsur estetik dominan.Sebuah karya fiksi haruslah tetap merupakan cerita yang menarik, tetap merupakan bangunan struktur yang koheren, dan tetap mempunyai tujuan estetik.Cerita fiksi dianggap dapat membuat manusia menjadi manusia lebih arif, atau dapat dikatakan sebagai “memanusiakan manusia”
Dalam dunia kesusastraan terdapat suatu bentuk karya sastra yang mendasarkan diri pada fakta yang disebut juga sebagai nonfiksi. Abrams menyebutnya sebagai fiksi historis ( historical fiction), fiksi biorgafis ( biographical fiction) jika menjadi dasar penulisan fakta biografis, dan fakta sains ( science fiction) jika yang menjasi dasar penulisan adalah ilmu pengetahuan.
Pembedaan Fiksi Novel Dan Cerita Pendek
 Novel dan cerita pendek (cerpen) merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi .Perbedaan antara novel dan cerita pendek dilihat dari segi formalitas bentuk,dan segi panjang cerita. Novel dan cerpen sebagai karya fiksi mempunyai kesamaan, keduanya dibangun oleh unsur-unsur cerita yang sama Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesutu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detail dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks sedangkangkan Cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai kepada detil-detil khusus yang “kurang penting” yang bersifat memperpanjang cerita.
Kelebihan cerpen adalah kemampuanya mengemukakan secara lebih banyak dari sekedar apa yang diceritakan sedangkan Kelebihan novel adalah mampu menyajikan suatu permasalahan yang kompleks secara penuh.
- Unsur-unsur Fiksionalitas dalam Prosa Fiksi dan Penerapannya
1.    Unsur-unsur fiksionalitas dalam prosa fiksi:
Tema
 Alur/plot
 Latar/setting
Tokoh dan penokohan
 Gaya
Sudut pandang
 Amanat

2.    Hubungan antar unsur tersebut 
 *  Tema
Hartoko dan Rahmanto (dalam Nurgiyantoro, 2005:68), tema merupakan gagasan dasar yang merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Sedangkan menurut Aminuddin (1987 : 91), untuk memahami tema, pembaca terlebih dahulu harus memahami unsur-unsur signifikasi yang membangun suatu cerita menyimpulkan makna yang dikandungnya, serta mampu menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya.
Menurut Aminuddin (1987 : 92). Dalam upaya pemahaman tema, pembaca perlu memperhatikan beberapa langkah-langkah berikut :
1) Memahami setting dalam prosa yang dibaca.
 2) Memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang dibaca
     3) Memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa dalam prosa fiksi yang dibaca
4) Memahami plot ataau alur cerita dalam prosa fiksi yang dibaca
   5) Menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan lainnya yang disimpulkan dari satuan –satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu cerita
6) Menentukan sikap penyair terhadap pokok-pokok pikiran yang ditampilkan
    7) Mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya denan bertolak dari satuan pokok serta sikap pengarang terhadap pokok pikiran yang ditampilkan
    8) Menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya dalam satu dua kalimat yang diharapkan ide dasar cerita yang dipaparkan yang pengarangnya.
* Plot/Alur
Plot/Alur merupakan unsur cerita fiksi yang penting, bahkan tak sedikit orang yang menanggapinya sebagai yang terpenting diantara berbagai unsur cerita fiksi yang lain.
Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 113) mengemukakan bahwa Plot / Alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.
Penampilan peristiwa demi peristiwa yang hanya mendasarkan diri pada urusan waktu saja belum merupakaan Plot. Agar menjadi sebuah Plot, peristiwa-peristiwa ini haruslah diolah dan disiasati secara kreatif, sehingga hasil pengolahan dan penyiasatannya itu sendiri merupakan suatu yang indah dan menarik, khususnya dalam kaitannya dengan karya fiksi yang bersangkutan secara keseluruhan.
Setiap cerita mempunyai plot yang merupakan satu kesatuan tindak. Menurut Nurgiyantoro (2005 : 153-163) plot dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis yang berbeda berdasarkan sudut-sudut tinjauan dan kriteria yaitu :
#    Berdasarkan kriteria urutan waktu
Urutan waktu yang dimaksud adalah waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi yang bersangkutan. Macam-macam plot berdasarkan urutan waktu yaitu :
1    .      Plot maju atau lurus
2    .      Plot mundur atau sorot balik
3    .      Plot campuran
  * Latar / Setting
Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 216) setting atau latar disebut juga sebagai landas tumpu, mengarah pada pengertian tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
Unsur latar setting atau dapat dibedakan dalam tiga unsur pokok, yaitu: (1) Latar tempat adalah menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. (2) Latar waktu adalah latar yang berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. (3) Latar sosial adalah latar yang menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi (Nurgiyantoro, 2005 : 227-233).
* Tokoh dan Penokohan
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan (Aminuddin 1987 : 79).
Nurgiyantoro (2005: 176-194), menerangkan bahwa peran tokoh-tokoh cerita dalam sebuah karya fiksi dapat dibedakan kedalam beberapa jenis. Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat dibedakan yakni :

Segi peranan
     a) Tokoh Utama adalah tokoh yang diutamakan penceritanya dalam cerita pendek yang bersangkutan
b) Tokoh Tambahan adalah yang hanya melengkapi dalam bentuk konflik
2. Segi fungsi penampilan tokoh
a) Tokoh Protogonis adalah tokoh yang memerankan prilaku positif
b) Tokoh Antagonis adalah tokoh yang penyebab terjadinya konflik atau pelaku negative
*  Gaya
Aminuddin (1987:76) menerangkan bahwa gaya adalah cara seorang  pengarang menyampaikan gagasannya lewat media bahasa yang indah dan harmonis meliputi aspek-aspek : (1) pengarang, (2) ekspresi, (3) gaya bahasa. Sebab itulah ada pendapat yang menjelaskan bahwa gaya adalah orangnya atau pengarangnya karena lewat gaya kita dapat mengenal bagaimana sikap dan endapan pengetahuan, pengalaman dan gagasan pengarannya. Gaya erat kaitannya dengan ekspresi karena jika gaya adalah cara dan alat seorang pengarang untuk mewujudkan gagasannya, maka ekspresi adalah proses atau kegiatan perwujuadan itu sendiri. Sebab itulah gaya dapat juga disebut sebagai cara, teknik maupun bentuk pengekspresian suatu gagasan.
* Sudut Pandang (Point Of View)
Menurut Booth (dalam Nurgiyantoro, 2005:249) sudut pandang (point of view) merupakan teknik yang dipergunakan pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya, untuk dapat sampai dan berhubungan dengan pembaca. Sedangkan menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005:248) Point of view adalah cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
Sudut pandang adalah cara atau pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya sastra (Abrams, 1981 : 142). Terdapat beberapa jenis sudat pandang.
* Amanat
Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat utama harus merujuk pada tema. Pesan moral lainnya dapat ditemukan tersebar dalam cerita.
  Kajian Fiksi
Pengkajian terhadap karya fiksi berarti penelaahan, penyelidikan, atau mengkaji, menelaah, menyelidiki karya fiksi tersebut. Novel merupakan sebuah struktur organisme yang kompleks, unik, dan mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya kita sebagai pembaca untuk menafsirkannya dan diperlukan usaha atau upaya untuk menganalisisnya.
Tujuan utama kerja analisis kesusastraan, fiksi, puisi maupun yang lain adalah untuk dapat memahami secara lebih baik karya sastra yang bersangkutan, disamping untuk membantu menjelaskan pembaca yang kurang dapat memahami karya itu. Kerja analisis sekedar sarana, sarana untuk memahami karya-karya kesastraan itu sebagai satu kesatuan yang padu dan bermakna.
Kajian Struktural
Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum formalis Rusia dan strukturalisme Praha .Menurut kaum strukturalisme, sebuah karya sastra, fiksi atau puisi adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunya.  Strukturalisme merupakan salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antar unsur pembangun karya yang bersangkutan. Menurut Hawkes, strukturalisme pada dasarnya juga dapat dipandang sebagai cara berpikir tentang dunia kesastraan yang lebih merupakan susunan hubungan daripada susunan benda. Analisis struktural dalam fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur instrinsik fiksi yang bersangkutan.
Analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antarberbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan.
Analisis struktural tidak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu  sebuah karya fiksi (unsur intrinsik). Namun, yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antarunsur itu, dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai. Analisis struktural dapat berupa kajian yang menyangkut relasi unsur-unsur dalam mikroteks, satu keseluruhan wacana, dan relasi intertekstual . Analisis struktural memiliki kelemahan, karena pada dasarnya suatu karya sastra tidak bisa hanya dikaji dari unsur-unsur pembangunnya saja tetapi, karya sastra tidak dapat dipisahkan dari latar belakang sosial-budaya atau latar belakang kesejarahannya. Oleh karena itu, analisis struktural sebaiknya dilengkapi dengan analisis yang lain, yang dalam hal ini semiotik, sehingga menjadi analisis struktural-semiotik, atau analisis struktural yang dikaitkan dengan keadaan sosial-budaya secara lebih luas.
Kajian Semiotik
Dalam pandanan semiotik bahasa merupakan sistem sebuah tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili sesuatu yang lain yang disebut dengan makna.
Bahasa sebagai suatu sistem tanda dalam teks kesastraan, tidak hanya menyaran pada sistem (tataran) makna tingkat pertama (first-order semiotic system), melainkan terlebih pada sistem makna tingkat kedua (second-order semiotic system) .
  Semiotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dpat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain.
Teori Semiotik Peirce
Teori Peirce mengatakan bahwa sesuatu tu dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain.
Sebuah tanda (representamen) haruslah mengacu (atau mewakili) sesuatu yang disebutnya sebagai objek (acuan) Jadi, jika sebuah tanda mewakili acuannya, hal itu adalah fungsi utama tanda itu.Proses perwakilan tanda terhadap acuannya terjadi pada saat tanda itu ditafsirkan dalam hubungannya dengan yang diwakili. Hal itulah yang disebut dengan interpretant yaitu pemahaman makna yang timbul dalam kognisi lewat interpretasi.
Proses perwakilan disebut semiosis yakni suatu proses dimana suatu tanda berfungsi sebagai tanda, yaitu mewakili sesuatu yang ditandainya .Proses kognisi merupakan dasar semiosis, karena tanpa hal itu semiosis tak akan terjadi.Proses semiosis menuntut kehadiran bersama antara tanda, objek, dan interpretant yang disebut oleh Peirce sebagai triadik
Peirce membedakan hubungan antara tanda dengan acuannya dalam tiga jenis-
 Ikon à jika ia berupa hubungan kemiripan
 Indeks à jika ia berupa hubungan kedekatan eksistensi
 Simbol à jika ia berupa hubungan yang sudah terbentuk secara konvensi (Abrams, 1981: 172)
Dalam kajian semiotik kesastraan, pemahaman dn penerapan konsep ikonitas memberikan sumbangan yang berarti. Peirce membedkan ikon ke dalam tiga macam yakni:
 Ikon topologis à istilah yang tergolong makna spasialitas
  Ikon diagramtik à istilah yang tergolong makna relasional
  Ikon metafora à pembuatan deskripsi mengharuskan dipakainya metafora sebagai istilah
-Teori Semiotik Saussure
Teori Saussure berkaitan dengan pengembangan teori linguistik secara umum.Bahasa sebagai sebuah sistem tanda menurut Saussure, memiliki dua unsur yang tak terpisahkan; signifier dan signifeid, significant dan signifie atau penanda dan petanda.Wujud significant (penanda) dapat berupa bunyi-bunyi ujaran atau huruf-huruf tulisan, sedangkan signifie  (petanda) adalah unsur konseptual, gagasan atau makna yang terkandung dalam penanda tersebut (Abrams. 1981: 171)
Bahasa sebagai aspek material, atau alat, dalam karya sastra telah memiliki konsep makna tertentu sesuai dengan konvensi masyarakat pemakainya. Oleh karena itu, unsur bahasa sudah tidak bersifat netral walau tidak tertutup kemungkinan untuk dikreasikanSastra memiliki konvensi antara lain untuk tidak menuturkan sesuatu secara langsung, sehingga makna yang disarankan lebih menunjuk pada tataran sistem makna tingkat kedua.
-Hubungan Sintagmatik Dan Paradigmatik
Salah satu teori Saussure yang dipergunakan secara luas dalam bidang kajian kesastraan adalah konsep sintagmatik dan paradigmatik.Dalam sebuah wacana, kata-kata saling berhubungan dan berkesinambungan sesuai dengan sifat linearitas bahasa.Di luar wacana kata-kata yang mempunyai kesamaan berasosiasi dalam ingatan dan menjadi bagian kekayaan tiap individu dalam bentuk langue.
Aliran Karya Sastra
Pengertian Aliran Sastra
Aliran sastra berasal dari kata Stroming ( bahasa Belanda ) yang mulai muncul di Indonesia pada zaman pujangga baru. Kata itu bermakna keyakinan yang dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham, ditimbulkan karena menentang paham-paham lama.
Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan hidup, politik, dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra. Dengan kata lain, aliran sangat erat hubungannya dengan sikap atau jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karangannya
 Jenis –jenis Aliran Sastra
a.Aliran Klasik (al-Madzhab al-Kalasikiy)
Aliran ini muncul di Yunani sebelum memasuki abad ke-19,kemudian berkembang di Romawi yang selanjutnya menyebar luas ke eropa pada masa kebangkitan .Kata “klasik” berasal dari bahasa Latin, “kalsius” yang berarti sekelompok sosial yang memiliki posisi tinggi di negara Roma pada masa dulu. Aliran klasik disebut juga dengan istilah taqidli atba’i dan salafi. Para penyair mengikuti jejak para penyair pendahulu seperti syair Umru’ al-Qais.
    سواي بتحنان الا غاريد يطرب *  وغيري با للذات يلهو ويلعب
وما انا ممن تا سر الخمر لبه * ويملك سمعيه اليراع المثقب
Selain aku
Dengan bunyi kicauan burung-burung
Selain aku
Dengan kelezatan ia bersenda gurau dn bermain-main
Bukanlah aku
Termasuk orang –orang yang kecanduan khamer
Bunyi seruling yang dapat menembus
Dan menguasai kedua pendengaranya
b.Aliran Romatisme (al-Madzhab al-rumantiqiy)
Aliran ini muncul di Prancis sebelum abad ke-19, atau setelah revolusi prancis. Para sastrawan yang beraliran ini selalu memperhatikan aspek keindahan, cenderung mengadakan pembaharuan dan kebebasan bepikir dan gaya bahasa yang diungkapkan. Menurut Zainuddin Fananie, romatisme adalah suatu aliran yang mendasarkan ungkapan perasaan sebagai dasar perwujudan. Dalam sastra Arab, romatisme lebih tepat dipergunakan untuk mengekspresikan sastra lirik (al-adab al-ghina’i). Para tokoh yang sastrawan Arab, seperti Umar bin Abi Rabi’ah, Kutsair, Ibn Khafajah, Syukra, Abu Syadi dan sastrawan-sastrawan lainnya.
c.Aliran Realisme (al-Madzhab al-Waqi’iy)
Aliran realisme dalam karya sastra selalu berusaha melukiskan suatu obyek seperti apa adanya. Pengarang realisme dapat diibaratkan sebagai seorang juru potret.
D.Aliran Simbolisme (al-Madzhab al-Rumziy)
Simbolisme dapat juga disebut sebagai aliran yang hampir sama dengan aliran romatisme. Aliran ini muncul  di Prancis pada abad ke-19, syair dalam pandangan mereka adalah gagasan yang menghujam pada diri sastrawan kemudian diungkapkan dalam bentuk bahasa yang tidak transparan. Dalam sastra Arab klasik, aliran ini memiliki beberapa pijakan, seperti yang diungkapkan Al-Hallaj, Al-khayyam, Ibn Al-Faridl, dan sekelompok sastrawan sufi lainnya.
e. Aliran Barnasiyah (al-Madzhab al-Barnasiy)
Nama aliran ini menunjukkan pada gunung Barnas, di Yunani, tempat tinggal apollo dan dewa  seni dalam mitologi Yunani. Karena itu, kata ini sangat sulit mencari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Dalam sastra Arab, aliran ini masih mementingkan kaidah wazan,qafiyah dan gaya bahasa yang indah.
Misalnya Abu Nawas dalam Syair Mujunnya ;
أثن على الخمر بالاىها * وسمها احسن اسماىها
Pujilah khamer dengan segala keagungan
Berilah juga ia sebutan yang terindah
f.Aliran Idealisme (al-Madzhab al-Mitsaliy)
Aliran ini banyak dipakai dalam falsafat, idealisme juga mengangankan suatu keindahan, hanya saja bukan materi yang menjadi tujuan , melainkan cita-cita atau harapan yang bersifat futuristik. Misalnya syair Abu al-Athiyah yang menceritakan orang-orang di masa Daulah Abbasiyah yang berselimut kemewahan dan kesenangan dunia.
g.Aliran Naturalisme (al-Madzhab al-Thabi’iy)
Aliran ini cenderung untuk melukiskan kekurangan dan keperluan hidup manusia, seperti karya Emile Zola, seorang pengarang berkebangsaan Perancis yang berjudul “Geminal”.
h.Aliran Eksistensialisme (al-Madzhab al-Wujudiy)
Aliran ini menjadi terkenal di Perancis yang dipelopori John Bole. S, yang menegaskan bahwa hakikatnya manusia adalah makhluk yang bebas, karena dia tidak diikat oleh aturan-aturan yang menghalangi kebebasannya.
i.Aliran Surrealisme (al-Madzhab al-Suryaliy)
Surrealisme adalah aliran yang melukiskan berbagai obyek dalam kesewaktuan. Bawah sadar manusia menjadi obyek seniman surrealis.


aku lah sang pendosa itu

diriku mulia...
karena postingan dakwah yg sering aku unggah
aku bagaikan malaikat yg tak berdosa
seakan kertas putih tanpa noda
kulihai berkata-kata
padahal ku tak mampu untuk menjalankan perintahnya
diriku bagai pencuri yg tersembunyi didalam kerangka mutiara
diriku penuh dosa
tapi apalah daya ku hanya seorang hamba yg hanya pandai bersilat lidah
tap tak mampu tuk mengamalkannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar