Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Teks Sastra juga tidak hanya teks yang berisikan tentang intruksi ajaran, lebih dari itu dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.Hal yang perlu diketahui juga ada pemakaian istilah sastra dan sastrawi.
Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekadar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra. Karena, sastrawan adalah seorang yang menyukai nuansa puitis dan abstraknya, tidak sekadar teks. Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral).
Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Pengertian sastra menurut para ahli
.Ahmad Badrun, Sastra adalah kegiatan seni yang menggunakan bahasa dan simbol lainnya garis sebagai alat, dan imajinatif.
Mursal Esten, Menyatakan sastra adalah pengungkapan sastra fakta sebagai manifestasi artistik dan imajinatif kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai media dan memiliki efek positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).
Menurut Engleton, panggilan sastra “Tulisan yang halus” (letters belle) dicatat bentuk bahasa kerja. sehari-hari dalam berbagai cara dengan yang dipadatkan bahasa, didalamkan, tersusun, dan diterbalikkan dipanjangtipiskan, membuat aneh.
Panuti Sudjiman, didefinisikan sebagai sebuah karya sastra lisan yang memiliki berbagai karakteristik atau tulisan keunggulan seperti keorisinalan, kesenian, keindahan dalam isi, dan ungkapannya.
B. SASTRA DAN BIDANG LAINNYA
a. Sastra dan Budaya
Budaya dan sastra memunyai ketergantungan satu sama lain. Sastra sangat dipengaruhi oleh budaya, sehingga segala hal yang terdapat dalam kebudayaan akan tercermin di dalam sastra. Masinambouw mengatakan bahwa sastra (bahasa) dan kebudayaan merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. Jika kebudayaan adalah sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, bahasa (sastra) adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya suatu interaksi.
Ketika kita membicarakan pengaruh kesusastraan asing dalam kesusasteraan Indonesia, kita harus melihat vista sastra Indonesia dari masa lalu hingga masa kini. Sebagai langkah awal, kita dapat melayangkan pandangan jauh ke belakang, ke masa Hamzah Fansuri mula bersyair dan bernazam atau ke zaman Nuruddin Ar-Raniry ketika melahirkan Bustanul Sallatin (Taman Raja-Raja) dan ketika Raja Ali Haji melahirkan Bustanul Katibin (Taman Para Penulis).
Hasil kesusastraan di zaman itu lebih sering disebut oleh sarjana sastra Indonesia-Melayu sebagai bagian dari sastra lama Indonesia dan dilanjutkan dengan sastra baru (modern) Indonesia yang dimulai sejak munculnya percetakan di Hindia Belanda dan diramaikan oleh kelompok Pujangga Baru. Meskipun demikian, patut diketahui bahwa sastra baru Indonesia pun sudah dipelopori oleh penulis Tionghoa peranakan yang mula pertama memperkenalkan cerpen dalam kesusastraan Indonesia modern.
Karya sastra Indonesia (Nusantara) lama itu sudah dimulai sejak abad ke-16 pada zaman Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniry, dan Syamsuddin Al-Sumatrani hingga periode para wali di Jawa yang banyak menghasilkan suluk sebagai pengaruh budaya Islam. Namun, di Jawa jauh sebelum Islam masuk pun sudah memiliki karya sastrakakawin yang mendapat pengaruh dari India. Kesusastraan asing yang paling berpengaruh dalam kesusastraan Indonesia lama adalah kesusastraan Arab dan Parsi (Persia). Jejaknya itu dapat kita baca pada naskah lama yang ditulis dalam aksara Arab Melayu dan tersebar luas hingga ke seluruh wilayah Nusantara. Karya sastra dari Arab dan Parsi itu banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu serta meninggalkan bentuk hikayat, syair, gazal, rubai, gurindam, masnawi, dan barzanzi dalam khazanah sastra Indonesia lama.
Sesudah berlalunya tradisi pernaskahan di Indonesia, pengarang Indonesia modern, yang dimulai oleh penulis Cina Peranakan, masih menulis syair dan pantun dalam karya cetak. Pada tahun 1912, misalnya, sudah mulai ditemukan cerita pendek yang awal dalam buku cerita Warna Sari yang terbit di Surabaya. Cerita pendek yang dimuat itu berjudul “Si Marinem” karya H.F.R. Kommer dan ditulis dalam ragam bahasa Melayu rendah (Sastri, 2012).
Pada masa Angkatan Pujangga Baru perkenalan para penulis dan pembaca karya sastra dengan karya sastra Eropa, khususnya Belanda, semakin mudah diperoleh, baik melalui buku pelajaran di sekolah maupun melalui karya saduran. Jika sebelumnya karya sastra asing, seperti Arab dan Parsi, diperoleh melalui hubungan perdagangan, karya sastra Eropa diperoleh melalui dunia pendidikan pada masa Hindia- Belanda.
Pada zaman Jepang, pengaruh kesusastraan asing, seperti Jepang, tidak terlalu banyak berarti dalam kesusastraan Indonesia. Hal itu disebabkan singkatnya masa pendudukan Jepang dan tidak adanya upaya penerjemahan karya sastra Jepang ke dalam bahasa Indonesia pada saat itu. Penerjemahan karya sastra Jepang ke dalam bahasa Indonesia dimulai pada tahun 1972 ketika Anas Ma’ruf menerjemahkan novel Yukiguni karya Yasunari Kawabata ke dalam versi Indonesia dengan judul Negeri Salju (Pustaka Jaya, 1972).
Sesudah kemerdekaan, sekitar tahun 1960-an, pengaruh kesusastraan asing dalam karya sastra Indonesia lebih disebabkan pengaruh ideologi, seperti komunisme dari Uni Soviet. Hal itu dapat kita temukan pada karya para penulis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang banyak menerjemahkan karya sastra Rusia yang beraliran kiri.
b. sastra dan psikologi
DEFINISI
Sastra adalah suatu kegiatan kreatif yang menjadi alat untuk menyampaikan pesan dan perasaan manusia kepada orang lain atau kepada para pengamatnya. Bentuk karya sastra menjadi beragam, seperti puisi, buku novel, lagu, lukisan, sketsa, dan lain – lain.
Para sastrawan menjadikan manusia sebagai objek mereka karena keberagaman manusia dalam berinteraksi dan bertingkah laku. Tingkah laku manusia seringkali menunjukkan gejala kejiwaan setiap individu, yang akan berbeda antara satu individu dengan lainnya. Untuk mengkaji masalah kejiwaan tersebut, maka digunakanlah bidang ilmu psikologi. Karya sastra yang dibuat seringkali dikaitkan dengan bidang psikologi, karena secara sadar ataupun tidak, pengarangnya menggunakan aspek psikologi untuk menciptakan karyanya.
Ilmu psikologi adalah kajian tentang menguraikan kejiwaan seseorang dan dalam kaitannya dengan sastra, digunakan untuk meneliti alam bawah sadar pengarangnya atau pembuat karya sastra tersebut. Munculnya cabang psikologi sastra karena adanya pembahasan tentang hukum – hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra, contohnya bagaimana sebuah tulisan dipengaruhi berdasarkan kehidupan pribadi pembuatnya atau pengarangnya.
Psikologi turut berperan penting dalam menganalisis sebuah karya sastra dengan melihat dari sudut pandang kejiwaannya, baik dari sudut pandang pengarang, tokohnya atau karya itu sendiri. Dengan demikian, adanya konflik batin dalam satu proses pembuatan karya sastra menarik untuk dianalisa menggunakan ilmu psikologi, dan pada akhirnya lahir ilmu baru berupa ‘Psikologi Sastra’. Dengan meneliti sebuah karya sastra yang dilakukan melalui pendekatan psikologi sastra, secara tidak langsung hal itu telah melibatkan ilmu psikologi. Jadi, pada dasarnya psikologi sastra adalah analisis pada teks dengan melibatkan pertimbangan relevansi dan juga peranan studi psikologis.
Bagaimana psikologi bercampur dengan karya sastra
Ada pendapat dari Rene Wellek dan Austin Warren ( 1993:81-93) serta Hardjana (1991:60) yang menyatakan bahwa psikologi bisa memasuki bidang sastra melalui beberapa cara yaitu:
Ketika dilakukan pembahasan mengenai proses penciptaan karya sastra
Adanya pembahasan secara psikologis mengenai pembuat karya tersebut baik sebagai pribadi maupun sebagai satu tipe
Adanya pembicaraan tentang kaidah psikologi yang bisa diperoleh dari karya sastra
Pembahasan mengenai pengaruh karya sastra terhadap pemirsanya.
Bagaimana memahami hubungan antara psikologis dengan karya sastra
Cara yang dilakukan untuk memahami hubungan antara psikologi dan sastra menurut Ratna (2004:343) adalah:
Memahami unsur kejiwaan pembuat karya sastra itu sendiri
Memahami unsur kejiwaan dari tokoh fiksi dalam sastra
Memahami kejiwaan para pemirsa karya sastra tersebut.
Karena karya sastra tidak dapat dilepaskan dari masalah penciptaan yang melibatkan berbagai macam masalah kejiwaan, maka untuk memahaminya perlu dilakukan dengan menggunakan dukungan dari ilmu psikologi. Psikoanalisis digunakan untuk menilai suatu karya sastra karena psikologi dapat menjelaskan suatu proses kreatif yang ada dibalik penciptaan suatu karya sastra. Dengan demikian, hubungan antara psikologi dan sastra adalah:
1. Menilai suatu karya dengan psikologi
Ilmu psikologi dapat digunakan untuk menilai suatu karya sastra karena dapat menjelaskan proses kreatif dibalik pembuatannya. Contoh, kebiasaan seorang pengarang untuk merevisi dan menulis ulang karyanya sendiri. Psikologi berperan dalam studi mengenani perbaikan naskah, koreksi yang dilakukan dan lain – lain. Gunanya agar kita dapat melihat adanya keretakan, ketidak teraturan, perubahan atau distorsi yang tergolong sangat penting bagi satu karya sastra. Ketahuilah cabang ilmu psikologi lainnya seperti psikologi faal, psikologi konseling, psikologi sosial, dan psikologi komparatif.
2. Menganalisis tokoh dalam karya sastra
Gunanya ilmu psikologi dalam kerya sastra lainnya adalah untuk menganalisa tokoh – tokoh yang ada dalam suatu drama atau novel secara psikologi, karena terkadang pengarang memasukkan teori psikologi yang diketahuinya ke dalam karya dan para tokoh ciptaannya walaupun secara sadar atau tidak.
3. Menganalisis jiwa pengarang
Pengarang memiliki jiwa yang berkaitan dengan karyanya sendiri. Ilmu psikologi dapat digunakan untuk menganalisa bagaimana keadaan jiwa pengarang pada saat ia membuat karyanya tersebut. Hal ini melibatkan pelacakan riwayat hidup pengarang karena anggapan bahwa peristiwa masa kecil akan turut mempengaruhi masalah kejiwaan dan proses penciptaan sang pengarang. Dengan demikian, kita dapat mengetahui adanya nilai kejiwaan pada satu karya sastra tertentu dan apa yang mempengaruhi proses penciptaannya.
4. Menganalisis tema utama
Suatu karya sastra dapat dianalisis tema utamanya melalui pendekatan psikologis, hal itu untuk mendapatkan hasil analisis yang lebih tajam mengenai perilaku dan watak para tokohnya. Dengan menggunakan ilmu psikologi, tema utama suatu karya bisa dikupas secara mendalam untuk memahami karya sastra secara keseluruhan. Ketahuilah juga sejarah dari beberapa cabang ilmu psikologi antara lain sejarah psikologi pendidikan, sejarah psikologi perkembangan, dan sejarah psikologi sosial.
5. Menalar perilaku tokoh cerita
Dalam menganalisis watak para tokoh dalam suatu karya sastra, perlu dicari secara nalar mengenai perilaku tokoh – tokohnya. Untuk mengetahui apakah perilaku para tokoh dapat diterima atau sesuai dengan norma umum, menjelaskan motif dan niat para tokoh untuk melakukan tindakan tertentu dalam suatu karya. Jika kita meneliti satu tokoh maka kita mesti mencari penalaran yang tepat akan setiap tindak tanduk para tokoh tersebut untuk mengetahui latar belakangnya.
6. Mengetahui motif penciptaan
Suatu karya sastra diciptakan dengan motif tertentu dibaliknya. Motif penciptaan tersebut harus diketahui dengan benar dan tepat untuk memahami satu karya sastra. Perlu dilihat apakah penciptaan disebabkan oleh endapan pada pengalaman batin pengarangnya atau adanya keinginan yang tidak terpenuhi yang menjadikan suatu kekecewaan akan satu hal yang disalurkan lewat tulisannya. Misalnya, seorang penulis yang mempunyai kondisi tubuh lemah dan mudah sakit – sakitan, menciptakan tokoh yang kuat, berani dan tangguh dalam salah satu karyanya.
7. Mengkaji konflik pada suatu karya
Adanya konflik pada satu karya sastra berkaitan dengan perwatakan dan alur cerita yang perlu mendapatkan perhatian dan kajian secara menyeluruh untuk memahami karya tersebut. Menganalisis konflik melibatkan analisa apakah konflik yang terjadi pada dalam diri tokoh cerita, konflik dengan tokoh lainnya atau konflik dengan situasi yang berada di luar diri sang tokoh. Beberapa artikel menarik yang perlu Anda ketahui antara lain kode etik psikologi, teori psikologi industri, dan teori hubungan interpersonal dalam psikologi.
8. Menganalisa pengaruh karya sastra
Suatu karya sastra tentunya akan mempunyai pengaruh terhadap pembacanya, dan yang perlu dianalisa adalah apabila pengaruh tersebut dapat meninggalkan kesan mendalam pada para pembacanya dan pada akhirnya menimbulkan dampak pada para pembaca. Walaupun demikian, menganalisa kesan suatu karya pada pembaca dan apa saja dampaknya akan sangat sulit, karena kesan tersebut berwujud abstrak dan berbeda pada setiap orang.
Manfaat Psikologi Sastra
Kegunaan mempelajari ilmu sastra dengan menggunakan pendekatan psikologis yang juga menjadi keunggulan dari psikologi sastra berasal dari manfaat mempelajari psikologi yaitu:
Mempertajam kemampuan untuk mengamati suatu karya sastra
Membantu mengasah kepekaan pada kenyataan yang ada
Memberi kesempatan penjajakan pola – pola yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam suatu karya
Membantu studi tentang perbaikan naskah, koreksi yang dapat digunakan dengan tepat.
Pendekatan psikologis dapat memberikan umpan balik kepada penulis atau pengarang mengenai masalah dalam pengembangan perwatakan yang dilakukannya dalam karya ciptaannya.
Kelemahan psikologi sastra
Setiap metode pendekatan yang digunakan pastinya akan memiliki sisi kelemahan begitu juga dengan penggunaan psikologi untuk pendekatan terhadap sastra. Kelemahan tersebut yaitu:
Memerlukan pengetahuan mengenai ilmu psikologi yang luas, jika tidak pendekatan ini sulit untuk dijalankan dengan lancar.
Sulit untuk mengetahui kaitan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya karena tokoh bukan merupakan makuk yang hidup dan tidak bisa ditanyai, sedangkan sang pengarang seringkali tidak mau memberi komentar atas karyanya.
Sulitnya menalar dan memecahkan hal – hal yang abstrak karena tidak adanya keterangan yang diberikan oleh penulis mengenai motif atau perilaku sang tokoh
Tidak mudah untuk mendapatkan pengetahuan apakah pengalaman yang menimpa tokoh cerita juga merupakan pengalaman pribadi sang pengarang atau bukan.
Pendekatan psikologis akan lebih mudah apabila pengarang jujur dengan hati nuraninya, yaitu dengan mencurahkan seluruh pengalaman batinnya kepada karya yang diciptakannya tersebut.
Dalam psikologi sastra, karya sastra mempunyai posisi yang lebih dominan, karena karya sastra mempunyai cakupan yang lebih luas dengan latar belakang penciptaan yang berbeda – beda dan juga menampilkan aspek yang berbeda – beda.
Dengan demikian, jelaslah bahwa psikologi sastra tidak menganalisis adanya kebenaran psikologis melainkan lebih menekankan kepada pertimbangan mengenai relevansi dan peran dari studi psikologis, yang mencakup pencarian suatu konflik dalam karya yang bertentangan dengan teori – teori psikologis yang ada. Psikologi sastra tidak ditujukan untuk memecahkan masalah psikologis atau kejiwaan manusia, akan tetapi untuk memahami aspek – aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya sastra tersebut, karena secara tidak langsung, suatu karya sastra akan memberikan pemahaman dan inspirasi tertentu terhadap masyarakat.
d. sastra dan filsafat (pemikiran)
Hubungan sastra dan filsafat laksana dua sisi mata uang; permukaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan yang lainnya; bersifat komplementer, saling melengkapi. Masalahnya, karya sastra membicarakan dunia manusia. Demikian juga filsafat, betapapun penekanannya pada usaha unutuk mempertanyakan hakikat dan keberadaaan manusia, sumbernya tetap bermuara pada manusia sebagai objeknya. Jika demikian apakah apakah kemudian itu berarti karya sastra identik dengan filsafat? Tentu saja tidak. Mengapa tidak? Di mana pula letak persamaan dan perbedaannya? Justru dalam hal itulah hubungan sastra dengan filsafat lalu melahirkan masalah sendiri.
Secara asasi, baik karya sastra maupun filsafat, sebenarnya merupakan refleksi pengarang atas keberadaan manusia. Hanya, jika karya sastra merupakan refleksi evaluatif, maka filsafat merupakan refleksi kritis. Apa yang diungkapkan filsafat adalah catatan kritis yang awal dan akhirnya ditandai dengan pertanyaan radikal yang menyangkut hakikat dan keberadaan manusia. Itulah, di antaranya, yang membedakan karya sastra dan filsafat.
Masalah hubungan sastra dan filsafat sesungguhnya bukanlah masalah baru. Sejak manusia mengenal cerita-cerita mitologis, sejak iu pula sesungguhnya hubungan sastra dengan filsafat — dalam pengertian yang lebih luas — sulit dipisahkan. Apakah cerita klasik macam Bhagawad Gita, Mahabharata, Ramayana, Epos Ilias dari Homerus, kisah Dewi Matahari Jepang. Ameterasu, karya sastra atau karya filsafat; karya filsafat yang disuguhkan dalam bentuk karya sastra, atau karya sastra yang berisi ajaran-ajaran filsafat?
Dalam khazanah sastra Indonesia, meski karya-karyanya belum dapat disejajar-kan dengan mitologi-mitologi tersebut, nama-nama Nuruddin Ar-Raniri, Syamsuddin As-Samatrani, Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji atau Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang), dikenal sebagai tokoh sufi yang ajaran tasawufnya (:filsafat) disampaikan le-wat puisi-puisi atau cerita-cerita simbolik. Munculnya istilah sastra sufi beberapa wak-tu lalu, juga sebenarnya bersumber dan mengacu pada karya-karya tokoh tasawuf itu.
Jika kita menarik karya-karya mereka jauh ke belakang, maka kita juga akan menemukan begitu banyak ajaran tasawuf (:filsafat islam) yang justru disampaikan dalam bentuk karya sastra. Sebut saja misalnya, karya Rabiah al-Adawiyah, penyair sufi wanita yang konon wafat tahun 752 (?), Al-Hallaj (828-921), Fariduddin Attar (1117-1234), Ibn Thufail (1106-1185) atau Sa?di Jalaluddin Rumi (1207-1270).
Di dunia Barat, juga sudah sejak lama mitologi Yunani klasik menjadi sumber ilham yang tak ternah habis-habisnya digali, baik untuk bidang filsafat, maupun sastra. Bahkan hingga kini tidak sedikit sastrawan di sana yang memuat semacam karya transformasi yang bersumber dari mitologi Yunani itu. Dalam perkembangannya kemudian, sejalan dengan munculnya berbagai macam aliran filsafat (Barat), muncul pula sejumlah filsuf yang menyampaikan gagasan filsafatnya lewat karya sastra. Dalam hal ini, karya sastra dijadikan sebagai ?alat? untuk mengukuhkan gagasan filsafat yang hendak disampaikannya.
Sekadar menyebut beberapa di antaranya, periksa misalnya karya-karya Vol-taire (1694-1778). Lewat novel-novelnya, L?Ingenu (Si Lugu), Candide, dan Zadig, Voltaire secara satiris hendak mengejek filsafat Leibniz (1646-1716), terutama yang menyangkut filsafat deisme. Begitu pula Friedrich Nietzsche (1844-1900) lewat The Spoke Zarathustra-nya, menampilkan tokoh Zarathustra sebagai simbol manusia ung-gul (uebermensch) yang dicita-citakan Nietzsche agar memperoleh kebebasan mutlak. Dalam dunia filsafat, ia dipandang sebagai filsuf eksistensialisme yang paling radikal.
Tokoh lain yang dianggap sebagai penganjur filsafat eksistensialisme yang juga menyampaikan gagasan filsafatnya lewat karya sastra, antara lain Albert Camus (1913-1960) dan Jean Paul Sartre (1905-1980). Gagasan filsafat eksistensialisme yang disam-paikan Sartre terdapat pada karya-karya pentingnya yang berupa novel, antara lain, La Nausee (Rasa Muak) dan Les Chemins de la Liberte (Jalan-jalan Kebebasan), serta karya drama Les Mouches (Lalat-lalat) dan Huis Clos (Pintu-pintu tertutup).
Hal yang sama juga dilakukan Albert Camus. Betapapun Camus sebenarnya lebih dikenal sebagai sastrawan daripada filsuf, lewat La Peste (Sampar) dan L?Etranger (Orang Asing), ia juga bermaksud mempertegas gambaran dirinya sebagai sosok eksistensialis dalam berhadapan dengan kehidupan yang absurd. Dalam filsafat islam, di samping tokoh-tokoh yang disebut terdahulu, Mohammad Iqbal (1873-1938) juga dikenal sebagai tokoh pemikir (:filsuf) Islam yang salah satu karya filsafatnya ditulis dalam bentuk puisi. Melalui puisi-puisi Parsi-nya yang panjang, sebagaimana yang tertuang dalam magnum opus-nya yang monumental, Javid Namah, Iqbal menyampaikan kritik pedasnya terhadap filsafat Barat dan pemi-kiran Islam tradisional. Di samping itu juga, ia juga menekankan pentingnya progresi-vitas dalam sikap dan pemikiran generasi muda Islam. Dalam hal itulah, pengembaraan rasio untuk memperkukuh keimanan Islami, mutlak ditumbuhkembangkan.
Dalam konteks itu, perlu diingatkan bahwa gagasan filsafat yang dibungkus ke dalam kemasan sastra, tetaplah mesti ditempatkan sebagai karya sastra. Artinya, bahwa karya itu tidak dapat begitu saja meninggalkan konvensi kesastraannya. Gagasan filsafat yang terkandung dalam karya itu seyogianya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari unsur-unsur kesastraan lainnya. Dengan demikian, gagasan filsafat itu akan lebur menjadi salah satu unsur yang justru ikut membangun nilai-nilai estetika karya bersangkutan.
Kecenderungan sastrawan yang terbawa oleh hasrat besarnya untuk berfilsafat dan mengabaikan nilai estetika kesastraan, akan tergelincir jatuh pada karya yang lebih dekat ke karya filsafat daripada ke karya sastra. Akibatnya, karya itu akan kehilangan daya tarik dan gregetnya sebagai karya sastra, karena ia lebih mementingkan gagasan filsafatnya daripada nilai estetiknya. Karya Sutan Takdir Alisjahbana, Grotta Azzura, misalnya, merupakan contoh betapa karya itu menjadi kurang menarik karena Alisjhbana lebih menekankan dialog-dialog panjang mengenai filsafat daripada kepaduan unsur-unsur novel itu sebagai kesatuan estetik. Dengan demikian karya itu — boleh jadi — lebih tepat ditempatkan sebagai karya filsafat daripada karya sastra.
Begitulah, betapapun karya sastra berbeda dengan filsafat, dalam semua karya sastra — yang bermutu — akan selalu terkandung nilai-nilai filsafat, entah menyangkut sikap dan pandangan hidup tokoh yang digambarkannya atau tema karya sastra itu sendiri. Semakin bermutu karya sastra itu, semakin mendalam pula kandungan filsafat-nya. Oleh sebab itu, dalam karya sastra yang agung, nilai-nilai filsafat yang dikandung-nya akan terasa lebih mendalam dan kaya. Sangat wajar jika kemudian orang mencoba mencari nilai-nilai filsafat pada karya sastra yang agung, dan bukan pada karya sastra picisan.
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yakni philos, philia, philien yang artinya senang, teman dan cinta. Sedangkan sophos, sophia dan sophien yang artinya kebenaran, keadilan, dan bijaksana atau kebijaksanaan. Pengertian filsafat secara etimologis dapat disimpulkan adalah cinta kebenaran atau cinta kebijaksanaan/kearifan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998:277), filsafat dapat didefinisikan sebagai berikut:
1. Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.
2. Teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan.
3. Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistimologi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah sekumpulan sikap, pemikiran, dan kepercayaan terhadap problema-problema yang berlangsung dalam masyarakat .
B. Hakikat Sastra
Sastra sangat berkait dengan istilah ‘filologi’. Filologi sebagai kajian budaya mencakup sastra, bahasa, seni, politik, agama, dan adat istiadat. Satra boleh juga disebut bagian dari filologi. Sastra sering dikatakan sebagai ‘tulisan yang indah’, juga dikatakan sebagai ‘pembentuk budi pekerti’. Perkataan ini banyak mengacu pada Horace, yakni dulce et utile yang memberikan penegasan bahwa sastra sebagai karya yang indah dan bermanfaat bagi pembaca. Masyarakat yang melakukan pembacaan terhadap karya sastra akan mendapatkan kesenangan dari tulisan yang indah dan mengharukan, juga mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah disadari keberadaannya di sekeliling.
Sastra memang hasil kreativitas pengarang yang mencermati realitas, namun untuk memahaminya dibutuhkan ilmu mengenai sastra itu sendiri. Sastra tidak hanya menampilkan rekaan untuk menghibur, melainkan ada sisi ‘tanda’ yang terwujud di dalamnya. Tanda itu terkait dengan gejala sosial yang secara sadar ataupun tidak sadar mewujud pada teks sastra. Satra sebagai hasil kreativitas merepresentasikan ‘gejala sosial’ yang dicermati oleh sastrawan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Hakikat karya sastra yang menampilkan sisi universal sekaligus khusus merupakan perkembangan dari konsep pemahaman terhadap sastra itu sendiri. Sastra yang terus mengalami perubahan menjadikan teori-teori yang pernah dituliskan pada masa dulu menuntut untuk terus diperbaharui. Hanya saja, teori-teori yang agung dan diungkapkan dengan kecermatan masih dipertahankan karena adanya keselarsan dengan zaman. Hakikat karya sastra yang terus mengalami perubahan perlu dicermati pada keterhubungan antarilmu sastra. Hubungan antarilmu tersebut merupakan pengetahuan untuk memasuki dunia sastra yang penuh dengan tanda. Untuk memahami hakikat karya sastra, perlu terlebih dahulu memahami cabang-cabang ilmu sastra dan hubungannya sebagai elemen yang saling mengisi dan mentransformasikan sisi-sisi sastra yang terus mengalami perubahan.
Cabang-cabang ilmu sastra itu diantaranya adalah sejarah sastra, kritik sastra, dan teori sastra. Sulit membicarakan satu dan melepaskan yang dua. Ketiganya merupakan satu jalinan. Jelas bahwa sulit memisahkan antara teori sastra dari kritik dan sejarah sastra, maupun sebaliknya. Teori sastra tak mungkin dapat disusun tanpa kritik dan sejarah sastra. Kriteria, kategori, skema (teori sasta) tak mungkin dibuat tanpa pijakan studi karya sastra (kritik dan sejarah sastra). Sebaliknya, tak mungkin ada kritik sastra dan sejarah sastra tanpa sistem pemikiran dan generalisasi (teori sastra). Teori dan praktik selalu mempengaruhi.
Kecenderungan sastrawan yang terbawa oleh hasrat besarnya untuk berfilsafat dan mengabaikan nilai estetika kesastraan, akan tergelincir jatuh pada karya yang lebih dekat ke karya filsafat daripada ke karya sastra. Akibatnya, karya itu akan kehilangan daya tarik dan gregetnya sebagai karya sastra, karena ia lebih mementingkan gagasan filsafatnya daripada nilai estetiknya. Karya Sutan Takdir Alisjahbana, Grotta Azzura, misalnya, merupakan contoh betapa karya itu menjadi kurang menarik karena Alisjhbana lebih menekankan dialog-dialog panjang mengenai filsafat daripada kepaduan unsur-unsur novel itu sebagai kesatuan estetik. Dengan demikian karya itu boleh jadi lebih tepat ditempatkan sebagai karya filsafat daripada karya sastra.
Begitulah, betapapun karya sastra berbeda dengan filsafat, dalam semua karya sastra yang bermutu akan selalu terkandung nilai-nilai filsafat, entah menyangkut sikap dan pandangan hidup tokoh yang digambarkannya atau tema karya sastra itu sendiri. Semakin bermutu karya sastra itu, semakin mendalam pula kandungan filsafatnya. Oleh sebab itu, dalam karya sastra yang agung, nilai-nilai filsafat yang dikandungnya akan terasa lebih mendalam dan kaya. Sangat wajar jika kemudian orang mencoba mencari nilai-nilai filsafat pada karya sastra yang agung, dan bukan pada karya sastra picisan.
pemuja senyum
seringkali aku tersipu
malu-malu menatap rekah dari sudut senyummu itu
berulang kali terjun dari sudut bibir itu
manis yg tak akan kunjung habis
rasa pun tergelincir
terpleset pada tangga-tangga waktu
yg mungkin pijak detiknya bukan hanya untukku
tak tercipta untuk seluruh jiwaku
namun, saatnya aku relakan rasa
mendukung mimpi-mimpi mengukir ceritanya
menyematkan tentangnya dikata pertamaberlaku seketika tanpa jeda
sebentuk senyum yg membuatku terlena
indah....
istimewa...
begitulah, rasaku terjatuh berulang kali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar