Selasa, 12 Mei 2020

Karakteristik bahasa sastra

A. Pengertian Bahasa dan Sastra
Bahasa (dari bahasa Sanskerta भाषा, bhāṣā) adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan. Kajian ilmiah bahasa disebut ilmu linguistik.
Bahasa alami adalah bicara atau bahasa isyarat, tetapi setiap bahasa dapat disandikan ke dalam media kedua menggunakan stimulus audio, visual, atau taktil, sebagai contohnya, tulisan grafis, braille, atau siulan. Semua bahasa bergantung pada proses semiosis untuk menghubungkan isyarat dengan makna tertentu.
Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Teks Sastra juga tidak hanya teks yang berisikan tentang intruksi ajaran, lebih dari itu dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

a Pengertian Bahasa Sastra
Bahasa sastra adalah bahasa yang khas dalam dunia sastra dan menurut beberapa orang menyimpang dari penuturan yang bersifat otomatis, rutin, biasa dan wajar. Penuturan dalam karya sastra selalu diusahakan dengan cara lain, baru, dan belum pernah dipakai sebelumnya.
Unsur kebaruan dan keaslian merupakan suatu hal yang menentukan nilai sebuah karya. Penyimpangan bahasa dalam sastra tidak menjadi kebebasan yang tak terbatas. Fungsi komunikatif bahasa masih membatasi kebebasan pembiasan bahasa itu. Bahasa yang dibiaskan masih mendasarkan pada bahasa yang konvensional agar pesan yang disampaikan sastra dapat dipahami dan terima oleh pembaca sehingga diperlukan keefektifan dalam pengungkapan suatu karya sastra. Hal itu dilakukan sebagai usaha mendeskripsikan makna yang terkandung di dalam karya tersebut serta menikmati keindahannya.
Untuk memperoleh pengungkapan yang efektif, bahasa dalam sastra disiasati, dimanipulasi, dan didayagunakan secermat mungkin sehingga tampil dengan sosok yang berbeda dengan bahasa nonsastra. Bahasa sastra dicirikan sebagai bahasa yang mengandung unsur emotif dan bersifat konotatif sebagai kebalikan bahasa nonsastra, khususnya bahasa ilmiah yang rasional dan denotatif. Penggunaan bahasa sastra lebih ditujukan pada tujuan estetik karena di dalamnya hanya menggunakan unsur emotif dan bersifat kononatif (Nurgiyantoro, 2000: 273). Keberadaan bahasa sastra itu telah diakui dan diterima karena bahasa sastra mempunyai karakteristik khusus yang membedakannya dengan bahasa nonsastra. Bahasa sastra, tentu saja lebih dominan menggunakan ciri emotif-konotatif sebab sastra mempunyai tujuan estetis penyampaian sesuatu yang tak langsung.
Sastra menyediakan norma untuk pemakaian bahasa yang baik dan dalam hal ini ditekankan pada aspek pragmatis yang sejak dulu memainkan peranan penting dalam retorika. Retorika seringkali menjadi sistem normatif atau preskriptif, yaitu menentukan norma yang harus diterapkan dalam pemakaian bahasa yang baik dan indah.

B. Ciri-ciri atau karakteristik bahasa sastra
Bersifat konotatif
Konotatif adalah kata yang memiliki pengertian tambahan atau arti sekunder di samping arti primernya. Nilai konotasi yang lebih luas dari pengertian denotasi amat penting dalam karya sastra. Setiap kata yang dipilih boleh diasosiasikan kepada berbagai pengertian. Oleh sebab itu di dalam sastra tidak ada pengertian yang sama bila ditinjau dari sudut kesan sensitivitas, dari sudut bunyi, dan dari sudut lambang. Setiap pilihan kata mempunyai pengertian tersendiri, misalnya kata cantik, molek, bagus, baik, anggun, indah, dari sudut denotasi mungkin artinya sama, tetapi kesan kata-kata ini memiliki sensitivitas berbeda.
Bersifat simbolis
Bahasa kesusastraan lebih bersifat simbolis, artinya bahasa sastra bukan saja mengungkapkan yang tersurat, tapi juga mengungkapkan makna yang tersirat. Hal ini berbeda dengan bahasa kewartawanan yang lebih bersifat literal.
Bersifat multitafsir
Multitafsir artinya berpenafsiran ganda. Bahasa dalam sastra cenderung mengundang penafsiran ganda dari pembacanya. Hal itu terjadi karena sifat konotatif bahasa sastra serta pengalaman masing-masing pembaca berbeda dan beragam. Bahkan secara ekstrem sering dikatakan bahwa keberhasilan suatu karya sastra dapat dilihat dari ada tidaknya sifat penafsiran ganda.
Memperhatikan efek musikalitas
Efek musikalitas adalah efek suara atau bunyi yang mampu membangkitkan rasa merdu. Kemerduan bunyi bahasa dalam karya sastra pada umumnya dapat dimunculkan lewat pola persajakan atau rima atau kadang dibentuk lewat perulangan bunyi yang sama dalam setiap bait atau kalimat.

Jenis-Jenis Gaya Bahasa dalam Karya Sastra
Beberapa ragam majas dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
1.    Gaya bahasa perbandingan
       a.    Metafora
Penggunaan perbandingan langsung dalam mengungkapkan perasaan penulis. Benda yang dibandingkan biasanya memiliki persamaan sifat.
Contoh :
Dewi malam telah keluar dari peraduannya. (dewi malam menggantikan bulan).
Demi menghidupi keluarganya, ia rela memeras otak dan membanting tulang. (memeras otak berarti berpikir keras, membanting tulang berarti bekerja keras).
b.   Personifikasi
Gaya pengorangan,menganggap benda mati atau tak bergerak dilukiskan seperti manusia.
Contoh :
Karena terdesak, pisau pun ikut bicara.
Bulan mengintip dibalik awan, sementara angin semilir membelai rambutku.
c.    Asosiasi
Gaya bahasa ini memberikan perbandingan terhadap benda yang sudah disebutkan. Perbandingan ini memberikan gambaran sehingga hal yang disebutkan menjadi lebih jelas.
Contoh :
Mukanya pucat bagai bulan kesiangan.
Suaranya merdu bagai bulu perindu.
d.   Alegori
Penggunaan perbandingan secara utuh, biasanya berupa kiasan.
Contoh :
Aduhai bunga melati. Putih berseri. Ingin kusentuh kelopakmu. Semerbak wangimu kurindu. Mahkotamu menjulai lunglai permai. Tidurku selimutkan mimpi atasmu
e.    Simbolik
Gaya yang menggunakan bahasa tertentu sebagai symbol atau lambang.
Contoh :
Melati lambing kesucian.
Bunglon lambing bagi orang yang tidak tetap pendiriannya.
f.     Metonimia
Penggunaan ungkapan sebagai pengganti nama atau keadaan yang sebenarnya.
Contoh ;
Ia tengah menyasikan film Si Pincang.
Si Belang datang

g.    Litotes
Penggunaan ungkapan yang berlawanan dengan keadaan sebenarnya dengan maksud untuk merendahkan diri.
Contoh :
Bila ada waktu mampirlah ke gubuk kami.
Usaha kami ini hanya setitik kecil dari samudra yang luas.
h.   Sinekdoke
Penggunaan gaya dengan cara menyebutkan bagian atau keseluruhan. Gaya ini dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1)   Pars pro toto
Penggunaan bagian suatu benda atau keadaan sedangkan yang dimaksud adalah keseluruhan. Contoh : Hamdan memelihara dua puluh ekor lembu.
2)   Totem proparte
Gaya bahasa yang terjadi oleh sebab menyebutkan keseluruhan benda, sedangkan yang diaksud adalah sebagian. Contoh : Rakyat Indonesia bahu-membahu melawan Belanda, Pati merebut piala bergilir Gubernur Jawa Tengah dalam perlombaan itu.
i.      Eufemisme
Gaya bahasa pelembut, dengan maksud untuk berlaku sopan.
Contoh :
Amin tidak naik kelas karena kurang pandai (bodoh)
Kami mohon izin ke belakang sebentar
j.     Hiperbola
Penggunaan ungkapan dengan cara yang berlebihan.
Contoh :
Suaranya menggelegar membelah angkasa.
Kenaikan harga BBM mencekik leher.
k.   Parifrasis
Penggunaan sepatah kata pengganti dengan serangkaian kata yang mengandung arti yang sama dengan kata yang digantikan itu.
Contoh :
Pagi-pagi berangkatlah kami. Kalimat ini diganti : ketika sang surya keluar dari peraduannya, berangkatlah kami.
Kereta api berlari terus. Kalimat ini diganti : kuda besi itu berlari terus

2.  gaya Bahasa Sindiran
a.    Ironi
Ialah salah satu majas sindiran yang dikatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnya dengan maksud menyindir orang dan diungkapkan secara halus. Contoh-contoh:
Hambur-hamburkan terus uangmu itu agar bias menjadi jutawan.
Kota Bandung sangatlah indah dengan sampah-sampahnya.
b. sinisme
Gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari gaya ironi.
Contoh :
Otakmu otak udang.
Harum benar bau badanmu, ya?
c. sarkasme
Gaya bahasa sindiran yang terkasar dimana memaki orang dengan kata-kata kasar dan tak sopan.
Contoh:
Soal semudah ini saja tidak bisa dikerjakan. Goblok kau!

3. gaya Bahasa Penegasan
a.    Pleonasme
Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh-contoh:
Dia turun ke bawah => Dia turun
·      Dia naik ke atas => Dia naik
b.    Paralelisme
Pengulangan kata-kata untuk menegaskan yang terdapat pada puisi. Bila kata yang diulang pada awal kalimat dinamakan anaphora, dan jika terdapat pada akhir kalimat dinamakan evipora.
Contoh-contoh:
Kau berkertas putih
Kau bertinta hitam
Kau beratus halaman
Kau bersampul rapi.
Kalau kau mau aku akan datang
Jika kau menginginkan aku akan datang
Bila kau minta aku akan datang
Andai kau ingin aku akan datang
c.    Interupsi
Gaya bahasa penegasan yang mempergunakan sisipan di tengah-tengah kalimat pokok, denagn maksud untuk menjelaskan sesuatu dalam kalimat tersebut.
Contoh: Tiba-tiba Ia-kekasih itu- direbut oleh perempuan lain.
d.   Retoris
Gaya bahasa penegasan ini mempergunakan kalimat Tanya-tak-bertanya. Sering menyatakan kesangsian atau bersifat mengejek.
Contoh-contoh:
Mana mungkin orang mati hidup lagi?!
Inikah yang kau namai bekerja?!
e.    Koreksio
Dipakai untuk membetulkan kembali apa yang salah diucapkan baik yang disengaja maupun tidak.
Contoh-contoh:
Dia adikku! Eh, bukan, dia kakakku!
Gedung Sate berada di Kota Jakarta. Eh, bukan, Gedung Sate berada di Kota Bandung.


Asimdeton
Beberapa hal keadaan atau benda disebutkan berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh:
Meja, kursi, lemari ditangkubkan dalam kamar itu.

4.      Gaya Bahasa Pertentangan
a.       Paradoks
Majas ini terlihat seolah-olah ada pertentangan.
Contoh:
Gajinya besar, tapi hidupnya melarat.
Artinya, uang cukup, tetapi jiwanya menderita.
b.      Antitesis
Majas pertentangan yang menggunakan paduan kata yang berlawanan arti.
Contoh:
Tua muda, besar kecil, semuanya hadir di tempat itu.
c.       Kontradiksio Interminis
Yaitu majas yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudahdikatakan semula. Apa yang sudah dikatakan, disangkal lagi oleh ucapan kemudian.
Contoh:
Semuanya sudah hadir, kecuali Si Amir.
Kalau masih ada yang belum hadir, mengapa dikatakan semua sudah hadir.



            untukmu bidadari yg tersembunyi

berusahalah lebih untuk memperbaiki diri
tak ada kata lelah dalam hijrah ini
terus istiqomahkan diri dalam jalan ilahi
bengkokmu adalah tanda sempurna
tetap bersembunyi
walau sejatinya kau tampak

kau tak gila pujian
kau pula tak takut celaan
dunia tak mampu menyilaukan
karena sejatinya kau lah sebaik-biak perhiasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar