Rabu, 06 Mei 2020

PENDEKATAN KARYA SASTRA

A. PENGERTIAN PENDEKATAN SASTRA
pendekatan merupakan alat untuk menangkap realita atau fenomena sebelum dilakukan kegiatan analisis atas sebuah karya. Dengan pendekatan, berarti seorang penulis, peneliti atau kritikus mempergunakan cara pandang, strategi intelektual, kerangka konseptual, kerangka pemikiran, paradigma dalam usaha memahami realita sebelum melakukan analisis intrepretatif terhadap sebuah teks puisi, novel, drama atau lainnya.
Adapun peran pendekatan sebagai:
-sebagai pemandu
-sebagai pembatas
-sebagai penjelas realita
 Berbekal pendekatan, seorang analis sesungguhnya memasuki kajian sastra dengan langkah dan cara berfikir secara terpadu, terfokus dan terhindarkan dari cara-cara spekulatif dan acak yang tidak sejalan dengan cara berfikir sistematis.

B. PENDEKATAN DALAM MENGAPRESIASI KARYA SASTRA
Istilah apresiasi berasal dari bahasa latin, apreciatio yang berarti mengindahkan atau menghargai. Dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut gove mengandung makna: 1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan 2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Sementara menurut S.Effendi , apresiasi sastra ialah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh, sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra (Aminuddin,2000:34). Pada akhirnya, seseorang akan mengetahui dan memahami unsur-unsur yang membangun karya satra, sehingga ia akan memberikan sebuah penilaian secara obyektif.
Berbagai pandangan pakar dalm bidang  Teori sastra dan pendekatannya dalam mengapresiaisi karya satra terdapat keanekaragaman. Abrams menyatakan, bahwa kekacauan dan keragaman teori lebih mudah dipahami dan diteliti, jika berpangkal pada situasi karya sastra secara menyeluruh. Ia memberikan kerangka yang sederhana, tetapi cukup efektif untuk menggambarkan empat istilah dasar dalam situasi karya sastra secara menyeluruh. Dan yang berpusat pada karya sastra . dalam kaitan ini, seperti yang dikutip oleh suwardi endaswara dalam bukunya “metodologi penelitian sastra: epistemology model teori dan aplikasi” (2003), dan partini sardjono pradotokusumo dalam bukunya “pengkajian sastra” (2005), abrams membagi pendekatan atau teori dalam mengapresiasi karya satra menjadi empat bagian. Namun perlu diketahui bahwa masing-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan, semua tergantung kepada kepentingan si peneliti.
pendekatan ekspresif
pendekatan ini meniti beratkan pada pengarang. Pendekatan ekspresif dalam mengapresiasi karya sastra merupakan model pendekatan yang jarang dilakukan. Pendekatan yang berupa kajian semi-psikologis ini mungkin kurang menarik dan atau dipandang kurang menguntungkan,. Karena peneliti yang mengguakn pendekatan in merasa kesulitan , jika harus berhubungan langsung dengan pengarangnya. mungkiN sekali pengarangnya telah tiada, atau jauh dari pembaca. Sebab, jika pendekatan ini hanya sekedar bersumber pada teks sering dianggap kurang lengkap.
  1. Pendekatan ekspresif lebih memandang karya satra sebagai ekspresi dunia batin pengarangnya. Atas dasar ini, pendekatan ekspresif lebih mendasarkan pada aspek latar belakang pengarang, kepribadian, dan hal ihwal yang melingkupi kehidupan pengarang. Pendekatan semacam ini merupakan studi sistematis tentang psikologi pengarang dan proses kreatifnya.
Dalam kaitan ini pengarang sebagai pencipta menjadi focus penelitian mendalam. Untuk itu, peneliti dapat memanfaatkan bioografi pengarang, jika telah meninggal dunia. Jika masih hidup, maka ia dapat menanyakan langsung lika liku psikologis pengarang sampai penciptaan teks sastra. tentu saja, pendekatan ini akan lebih mengu tungkan manakala si pengarang masih hidup dan mdah dihubungi atau diajak berkomunikasi, jika sag pengarang telah meninggal dunia, seorang peneliti dapat menanyakan pada saudaranya atau kerabat dekatnya. Dengn kata lain, model life historiy atau studi biografi lengkap akan membantu dengan sempurna. Pendekatan ekspresif pertama kali dipelopori oleh longinus. Ia menyatakan bahwa ciri khas dan ukuran seni satra yang bermutu adalah keluhuran sebagai sumber utama pemikiran dan perasaan pengarang. sumber keluhuran itu antara lain, karya yang mengapresiasi daya wawasan yang agung ,emosiyang mulia,retorika yang unggul, pengungkapan dan pengubahan yang mulia. Sumber-sumber itu akan membawa semangat ilahi yang menjadi dorongan yang luar biasa bagi penciptaan (suwardi endaswara, 2003:29).
     Misalnya, kita mengapresiasi syair abu al-qosim al-syabi yang menggambarkan pahitnya dan sengsaranya hidup di duna ini. Potongan syairnya berbunyi:
يا صميم الحياة كم أنا فى الدن" يا غريب أشقى بغربة نفسي فى وجود مكبل بقيود" تائه فى ظلام شك ونحس فاحتضنني وضمني لك بالما" ضي فهذا الوجودعلة يأسي
Wahai lubuk hati kehidupan
Berapa lama aku meninggalkan dunia
Aku akan celaka dengan meninggalkan diriku sendiri
Hidup dalam alam yang di belenggu kesesatan
Penuh keraguan dan kesialan
Peluklah aku
Jaminanku kepadamu pada masa lalu
Hidup ini
Adalah sebab mnculnya kesedihan .

Untuk memperoleh pemahaman yang utuh dalm mengapresiasi syair abu ai-qasim al-syabi diatas, terlebih dahulu harus diketahui latar belakang, kepribadian, dan aspel-aspek yang terkait dengan psikologisnya. Karena memahami karya sastra dengan menggunakan pendekatan ini, maka hal-hal yang berhubungan denga biografi pegarang menjadi keharusan untuk dicermati dan diketaahui. Tanpa itu semua, pemahaman akan menjadi kering. Karena munculnya ungkapan dalam syair tersebut sangat dilatarbelkangi oleh situasi yang melingkupi pengarangnya, yaitu abu al-qasim al-syabi.
      Sebab itu pemahaman terhadap makna kta tidak bisa ditentukan secara leksikal, atau makna kamus, tetapi keadaan psikologis pengarang amat sangat menentukan makna yang dimaksud. Kata “gharib” mislnya, secara denotative ia berarti asing,akan tetapi, bila dikaitkan dengan kondisi al-syabi ketika mengungkapkan syair diatas, maka kata “gharib” tidak sekedar bermakna asing, melainkan menyimpan nilai-nilai dan keadaan psikologis yang sedang menimpanya. Dengan demikian, makna kata”gharib” akan lebih kaya dan variatif, karena kata tersebut menggambarkan kondisi dan psikologi al-syabi.

  2. Pendekatan obyektif
   Pendekatan ini disebut juga dengan strukturalisme atau instrinsik, yaitu sebuah pendekatan yang menitiberatkan pada teks sastra semata. Strukturalisme, pada dasarnya merupakan  cara berpikir ttg dunia yang terstruktur. Dalam pandangan ini karya sastra diasumsikan sebagai fenomena yang memiliki struktur yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Kodrat struktur itu akan bermakna, apabila dihubungkan dengan struktur lain struktur tersebut memiliki bagian yang kompleks, ssehingga pemaknaan harus diarahkan kedalam hubungan antar unsur secara keseluruhan.
  Menurut junus, strukturalisme memang sering dipahami sbg bentuk. Karya sastra adalah bentuk. Karena itu, strukturalisme sering dianggap sekedar formalisme modern. Memang, ada kesamaan antara strukturalisme dgn formalisme yang sama-sama mencari arti teks itu sendiri. ia merupakan cabang penelitian sastra yang tidak bisa lepas dari aspek-aspek linguistic. Keutuhan makna sangat bergantung pd koherensi keseluruhan unsur sastra. karena masing-masing unsur memiliki pertautan yang membentuk system makna. Setiap unit struktur teks sastra hanya akan bermakna, jika dikaitkan hubungannya dengan struktur lainnya.
   Menurut jean peaget, strukturalisme mengandung tiga hal pokok. Pertama, gagasan keseluruhan, dalam arti bahwa bagian-bagian atau unsurnya menyesuaikan diri dengan seperagkat kaidah intrinsic yang menentukan, baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya. Kedua, gagasan transformasi, struktur ini menyanggupi prosedur transformasi yang terus menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru. Ketiga, gagasan keteraturan yang mandiri, yaitu tidak memerlukan hal-hal diluar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya, struktur itu otonom terhadap rujukan system lain.
   Paham strukturalisme, sebenarnya menganut paham Ferdinand de sausure yg mengajukan konsep sign dan meaning (bentuk dan makna), atau seperti yg dikemukakan Luxemburg , significant-signifie dan paradigm-syntagma. Kedua unsur ini selalu berhubungna dan merajut makna secara keseluruhan. Karenanya, kedua unsur penting ini tidak dapat dipisahkan dalam penafsiran karya sastra. karya sastra yang dibangun atas dasar bahasa memiliki ciri: 1) bentuk (form) dan 2) isi (content), atau makna (significance) yang otonom. Artinya, pemahaman karya sastra dapat diteliti dari teks sastra itu sendiri.
Ide dasar strukturalis adalah menolak kaum mimetic yang menganggap karya sastra sebagai tiruan kenyataan, dan kaum ekspresif yang menganggap karya sastra sebagai ungkapan watak dan perasaan pengarang, dan juga menentang asumsi bahwa karya sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembaca. Pendek kakta , strukturalisme menekankan pada ekonomi penelitian sastra(suwardi endaswara, 2003:49)
Misalnya kita ingin memahami dan menafsirkan syair al-barudi yang dikutip M.abdul mun’im khafaji di bawah
ذهب الصبا وتولت الأيام " فعلى الصبا وعلى الزمان سلام نلهوونلعب بين خضر حدائق " ليست لغير خيولناتستام
Tidak lenyap kerinduan
Hari-hari mengiringinya
Semoga keselamatan tetap pada kerinduan dan waktu
Kami bersenda gurau dan bermain-main
Diantara yang menghijau
Yang tidak dinaikkan harganya
Bagi selain kuda-kuda kami

Dengan menggunakan pendekatan objektif atau strukturalisme yang menekankan bahwa karya sastra adalah otonom, maka kita dituntut untuk menganalisis secara linguistic arti dan maksud dari masing-masing kata yang membangun syair tersebut. Kemudian, kita mengaitkan antara maksud kata yang satu dengan yang lainnya. Sebab, dengan mengikuti model pendekatan ini belum tentu sebuah kata bisa dipahami dan dimengerti secara leksikal, terkadang kata itu menghendaki makna lain karena ada kesesuaian dengan makna kata yang lain.
Sebagaimana yang ditekankan Ferdinand , yaitu selalu memperhatikan hubungan antara bentuk dan makna, signifiant dan signife. Misalnya term “al-shaba” (kerinduan) adalah sebuah tanda yang terdiri dari unsur penanda (signifiant) dan petanda (signifie), serta memiliki rujukan (referent) yang telah disepakati melalui konvensi pengguna bahasa. Yang menjadi perhatian adalah, preferensi kata “al-shaba” yang digunakan al-barudi memiliki alasan dan keterkaitan dengan makna kata-kata yang lain, sehingga ia tidak mengungkapkan, misalnya , kata “al-muhabbah,al-syauq”,al-hawa”,al-rahmah”,al-isyq”, dan sejenisnya yang sama-sama mempunyai makna “kerinduan”. Tetapi yang jelas, pendekatan obyektif selalu menekankan makna preferensi kata dalam keterkaitannya makna dengan kata yang lain. Dengan demikian al-barudi memilih kata “al-shaba “,karena ia memiliki rujukan makna yang seirama dan proporsional, apabila dikaitkan dengan makna kata “al-ayyam” dan “al-zaman”

  3. Pendekatan mimetic
Pendekatan ini menghubungkan karya sastra dengan alam semesta(dalam istilah abrams disebut universe). Universe alam semesta ini berkaitan dengan aspek dan masalah yang cukup luas dan rumit, tidak hanya menyangkut masalah ilmu sastra, tetapi juga antara filsafat dan psikologi, dan sosiologi dengan segala aspeknya.
    Dalam hubungan karya sastra dengan mimesis, plato berpendapat bahwa sastra merupakan tiruan dan tidak menghasilkan kopi yang sungguh-sungguh. Seni hanyalah meniru dan membayangkan hal yang Nampak, berdiri dibawah kenyataan. Seni seharusnya penuh dengan kebenaran, dan seorang seniman harus rendah hati. Namun, ia cenderung mengumbar nafsu, padahal manusia yang berasio seharusnya meredakan nafsu.
    Sementara aristoteles berpendapat, bahwa seni justru membuat jiwa manusia menjadi suci melalui proses yang disebut khatarsis. Penyair tidak meniru kenyataan, seniman mencipta dirinya sendiri dengan probability. Karya seni menjadi sarana pengetahuan yang khas, cara yang unik untuk membayangkan pemahaman tentang aspek atau situasi manusia yang dapat diungkap dengan jalan lain.
    Teori mimesis menganggap karya sastra sebagai pencerminan, peniruan , atau pembayangan realitas.  Pendapat ini kebanyakan dianut oleh peneliti sastra aliran marxis dan peneliti lain yang menganggap karya seni sebagai dokumen social. Sarana yang terkuat dalam pengarahan manusia pada penafsiran kenyataan ialah bahasa. Bahasa tidak hanya mengintegrasikan berbagai bidang pengalaman menjadi keseluruhan yang bererti, tetapi juga menmungkinkan mengatasi kenyataan sehari-hari(partini sardjono pradotokusumo,2005:76)
Perhatikan syair Mahmud al-habubi yang menginginkan kemerdekaan dan kebebasan berikut ini:
طال انتظارك فاطلعي لتري " عيشا بلا ملل ولا سأم والموت للأ حرار أطيب من " عيش العبيد وذلة الخدم نام الطغاة وهاهناوهنا " مقل من الأرهاب لم تنم
Lama menunggumu
Bangkitlah dan perlihatkanlah
Kehidupan yang tidak membosankan dan menyedihkan
Kematian bagi orang yang menghendaki kemerdekaan
Itu lebih baik daripada kehidupan hamba
Dan hinanya pengabdian
Orang-orang dzalim berkuasa
Inilah kemerdekaan
Yang menyedikitkan ancaman

 Agar dalam mengapresiasi syair Mahmud al-habubi tidak diperoleh pemahaman yang parsial, maka sesuai dengan pendekatan mimetic, situasi yang terjadi pada saat Mahmudi al-habubi hidup di mesir hendaknya diketahui. Namun yang jelas,ketakutan dan keterbungkaman menjadi fenomena bagi masyarakat mesir akibat dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak membela rakyat. Kebebasan sebagai asas demokrasi menjadi tersumbat, dan aspirasi seluruh warga tidak dapat disalurkan. Situasi seperti itulah mendorong mahmudi. Al-habubi untuk mengekspresikan syairnya, agar pemerintah bisa merubah sikapnya yang dictator. Karena oitu, situasi yang mengitari al-habubi sangat membantu dalam memahami dan menafsirkan masing-masing kata yang diungkapkan.

  4. Pendekatan pragmatic
Pendekatan ini meniti beratkan pada pembaca sastra. tokoh utama dalam ilmu sastra yang menekankan peranan pembaca adalah hans Robert jauz. Menurutnya, para peneliti sastra telah menghilangkan factor yang terpenting dalam proses semiotic yang disebut kesusastraan, yaitu factor pembaca yang merupakan factor mendasar dan menentukan dalam sastra, kesejahteraan sastra, dan sifat komunikasinya yang menggambarkan suatu hubungan dialog dan proses antara karya, pembac,dan karya baru. Oleh sebab itu, estetik produksi dan mimetic harus diperluas dengan esthetic tanggapan dan efek yang menjadi kata kunci dalam kalangan ahli sastra.
   Pembaca menilai, menafsirkan, memahami, dan menikmati karya sastra untuk menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah dan estetis. Juaz, juga memperkenalkan cakrawala harapan yang tercipta karena pembacaanya terlebih dahulu, disamping sebagai manusia budaya,dan seterusnya. Fungsi efek nilai sebuah karya sastra untuk pembaca tertentu bergantung kepada hubungan struktur, ciri-ciri,dan unsur-unsur karya itu dengan cakrawala harapan pembaca. Keindahan suatu karya sastra bukan sesuatu yang mutlak, abadi, dan tetap. Keindahan adalah pengertian yang nisbi, bergantung pada situasi dan latar belakang sosio-budaya si pembaca. Ilmu sastra justru harus meneliti hal itu, bukan keindahan langgeng, melainkan keutamaan resepsi suatu karya oleh pembaca pada masa dan tempat yang berbeda-beda (partini sardjono pradotokusumo, 2005:78)
     Bagaimana menafsirkan syair kamil amin dalam kasiddahnya, “dzikrayat layali al-syita” berikut ini dengan menggunakan pragmatic?
لقد كان ذلك فى ليلة " مسهدة من ليالي الشتاء خر جت من الحان أبغي الطريق " الى حيث يلقي بطيشي القضاء ومن عادة الفوضوي الحياة " طليقا كما شاء أني يشاء
Sungguh ada demikian itu
Pada satu malam dari beberapa malam
Yang takbisa tidur karena musim dingin
Aku keluar dari kekeliruan
Kemudian aku kesasar di jalan
Dimana ketetapan itu dipastikan
Karena kesalahanku
Dari kebiasaan kekacauan hidup
Yang berpisah sebagaimana ia sukai

Dalam mengapresiaisi syair kamil  amin, pembaca mempunyai kebebasan untuk menafsirkan sesuai dengan sudut pandang yang menjadi pijakan. Sehingga , antara satu peneliti dengan peneliti lainnya bisa terjadi pemahamannya yang sama, atau sebaliknya. Kalau si peneliti melihat aspek sosiologis, misalnya, maka tidak akan sama dengan peneliti lainnya yang menekuni bidang semiotika. Begitu juga dengan orang yang menguasai ilmu psikologi, tentu ia akan menafsirkan dari sisi psikologis pengarangnya, dan yang ahli stilistika akan melihat dari sudut gaya bahsanya, artinya si peneliti memberikan pemahaman dan penafsiran yang berbeda-beda sesuai dengan latar budaya dan disiplin ilmu yg dikuasai.

duhai teman seperjuanganku

tinggal dalam bingkai hatiku sebagai teman seperjuanganku
aku tertawa, kau terluka, aku terluka,kau tertawa
kita mungkin tak menyadari, aku bahkan tak mengerti
perlahan... ketulusanmu menyamarkan kisah pertemanan kita
tidak kusesali sekian cerita kita rajut bersama
sedikit luka sebagai jembatan mendekatkan hati kita
barangkali suatu saat kau akan memperoleh sebuah cerita yg lebih indah bersama yg lain
aku mencarinya kesetiap alasan, setiap pertemuan, bahkan dari ikatan
kucoba yakini tak ada apa-apa disini, rindu yg perlahan menyiksaku
dengarkanlah wahai teman seperjuanganku
jika saja angin mampu berbicara jujur
dia akan berbicara sejuta rindu yg terpantul dalam bilik hatiku
menembus mega-mega menggantung di angkasa
menghuni kedalaman jiwaku dan terkunci dalam bibirku meski tersirat dalam pandangku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar