Rabu, 06 Mei 2020

SASTRA LISAN

A. Pengertian Sastra Lisan
Sastra lisan adalah berbagai tuturan verbal yang memiliki ciri-ciri sebagai karya sastra pada umumnya, yang meliputi puisi, prosa, nyanyian, dan drama lisan. Sastra lisan (oral literature) adalah bagian dari tradisi lisan (oral tradition) atau yang biasanya dikembangkan dalam kebudayaan lisan (oral culture) berupa pesan-pesan, cerita-cerita, atau kesaksian-kesaksian ataupun yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi lainnya (Vansina, 1985: 27-28).
Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan yang jelas bahwa sastra lisan itu sekumpulan karya sastra atau teks-teks lisan yang memang disampaikan dengan cara lisan, atau sekumpulan karya sastra yang bersifat dilisankan yang memuat hal-hal yang berbentuk kebudayaan, sejarah, sosial masyarakat, ataupun sesuai ranah kesusasteraan yang dilahirkan dan disebarluaskan secara turun temurun, sesuai kadar estetikanya.

B. jenis-Jenis Sastra Lisan
1. Prosa
Kata prosa berasal dari bahasa latin prosa yang artinya terus terang. Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa biasanya dibagi menjadi empat jenis : prosa naratif, prosa deskriptif, prosa eksposisi, dan prosa argumentatif. Dalam kaitannya dengan karya sastra, prosa yang lebih tepat adalah prosa naratif. Prosa naratif yang umum kita temui adalah cerpen dan novel.
2. Puisi
Puisi adalah karya yang sejak dlu telah benar-benar dianggap sebagai karya sastra yang sejati. Dibandingkan dengan prosa dan drama puisi telah lebih dulu ada dan dianggap karya sastra sesungguhnya. Dilihat dari sifatnya, puisi merupakan karya rekaan yang bersifat monolog. Artinya, dalam puisi pada umumnya tidak ada bentuk-bentuk narasi seperti dialog antar tokoh, pemaparan panjang seperti deskripsi dan narasi. Sementara itu, jika dilihat dari bentuknya, puisi juga dapat dibedakan dengan karya lain terutama prosa. prosa biasanya dibangun oleh paragraf-paragraf dan ujaran tokoh sedangkan puisi berbentuk bait-bait atau ayat. Puisi sangat mengandalkan pencitraan, pilihan kata yang tepat, dan metafora. Puisi pada umumnya mengungkap suatu ide atau gagasan umum dan luas dengan ungkapan yang singkat dan simbolik. Menurut zaman dan karakteristiknya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.
a. Puisi Lama
Ciri-ciri puisi lama:
Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Yang termasuk ke dalam puisi lama ialah mantra, pantun, karmina, bidal, gurindam, syair dan talibun.
b. Puisi Baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas: balada, himne, ode, romansa, elegi dan satire.

C. Unsur-Unsur Sastra Lisan
Sastra lisan menjadi suatu hal yang begitu dekat dengan masyarakat Nusantara. Terkadang hal-hal yang berwujud sastra lisan yang menceritakan tentang sebuah kisahan yang dilisankan, terkadang cerita tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan, apalagi harus dihakpatenkan sebagai milik individu. Ini terbukti karena  sastra lisan memang dimunculkan dan dikembangkan secara turun temurun.
Secara intrinsik, unsur-unsur sastra lisan itu bertemakan tentang kehidupan, sebuah cerita yang memang dapat diambil pelajaran yang berharga. Selanjutnya, tokoh yang sering digunakan ialah sepasang suami istri yang memiliki anak, kisahan yang memakai tokoh perempuan/gadis Minang yang bertarung dengan tokoh pria yang jahat dan sebagainya. Tentu saja yang latar yang dipakai lebih ada kedaeraham terjadi di suatu nagari di Minangkabau, terjadi di Luhak Nan Tuo dan atau di Pesisir. Kebanyakan sastra lisan yang memang dikisahkan tentu memakai sudut pandang orang ketiga sebagai pelaku pertama, lebih sering dinamakan (Si Wati, Si Zainuddin, Si Halimah dan sebagainya). Tentu di sastra lisan akan melahirkan amanat yang berkesan di hati penontonnya sebab menyangkut pada kejadian di lingkungan dan kehidupan masyarakat itu sendiri.

D. Fungsi Sastra Lisan
Fungsi saatra lisan di masyarakat itu dapat di lihat sebagai berikut:
Pertama, berfungsi sebagai system proyeksi. Hal ini dapat dilihat pada certa bawang putih dan bawang merah. Cerita ini merupakan proyeksi idam-idaman dibawah sadar dari kebanyakan gadis miskin (yang cantik tentunya) unutuk menjadi istri orang kaya atau bangsawan (pangeran), orang tersohor, walupun hal ini hanya terjadi dalam angan-angan belaka. Contoh lainya adalah cerita sangkuriang. Cerita ini sebenarnya merupakan angan-angan terpendam dari seorang anak laki-laki untuk berseggama dengan ibu kandungnya (Oedipus complex).
Kedua, berfunsi untuk mengesahkan kebudayaan, misalnya cerita Asal usul kata babah . Cerita ini sebenarnya mengandung maksud untuk mengesahkan ketidakbenaran perkawinan antar pribumi (laki-laki) dan non pribumi (cina, perempuan). Cerita lain adalah cerita cecak yang menghianati Nabi Muhammad. Certa ini mengandung maksut untuk mengesahkan pembunuhan cicak.
Ketiga, sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial dan sebagai alat pengendali sosial. Hal ini dapat dapat dilihat pada pribahasa seperti: pagar makan tanaman, tua-tua keladi makain tua makin jadi; dan lain-lain.
Keempat, sebagai alat pendidikan anak. Dalam hubungan ini, cerita-cerita binatang (kancil) adalah sebuah contoh yang tepat. Certa-cerita ini banyak digunakan oleh orang tua (pada jaman generasi penulis masih anak-anak) untuk mendidik anak-anak. Hal yang demikian ini juga banyak terdapat dalam puisi rakyat.
Dalam sasra lisan jawa ada sebuah tembang (nyanyia) yang berhubungan nama-nama jari tangan kita. Sebagai kita ketahui, nama-nama jari tangan kita terdiri dari:
1. Jari kelingking (jentik atau enthik)
2.  jari manis (jentik manis)
3.  jari tengah (penuggul)
4.  jari telunjuk (penuding)
5. ibu jari (jempol)
Kelima, jari tangan kita menurut orang jawa stu sama lain mempunyai ikatan persaudaraan dan jari tangan kita itu digunakan untuk pendidikan untuk anak-anak kita. Dalam ini, anak-anak di ajari untuk menghormati orang tua. Baik orang tua sendiri maupun orang-orang yang di anggap tua. Pokoknya, orang tua harus di hormati.
Keenam, untuk memberi jalan kepada seseorang agar dia dapat mencela orang lain. Hal ini tampak dalam peribahasa-peribahasa yang berisi sindiran dan celaan. Hal ini juga tampak dalam pantun-pantun misalnya, pantun berikut:
            Sudah pun medak si ikan yu
            Dibawa Lalu hendak di timbang
            Masakan tidak bunga tak layu
            Kau selalu diseri kumbang
Ketujuh, Sebagai alat untuk memprotes ketidakadilan dalam masyarakat dan akhirnya, fungsi kedelapan sastra lisan di masyarakat . Dan akhirnya fungsi kedelapan sastra lisan adalah untuk melarikan diri dari himpitan hidup sehari hari. Dengan perkataan lain, untuk hiburan semata.

ternyata kau lah talbis iblis

kau yang selalu memanjakanku
kau jugalah yang selalu menasihatiku
kau bahkan yang selalu menyanjungku
ternyata kau lah setan dalam bentuk yg utuh

kau buat aku tak malu berbuat dosa
kau buat aku nyaman untuk mengingkari perintahnya
tak mampu aku berkata-kata
ternyata kaulah talbis iblis yang sebenanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar