Rabu, 06 Mei 2020

SASTRA DENGAN PENDEKATAN INSTRINSIK DAN EKSTRINSIK

A. Konsep Dasar
Pada dasarnya karya sastra dibangun oleh dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Yang termasuk dalam unsur intrinsik adalah tema, alur, tokoh, penokohan, latar/setting, sudut pandang dan amanah.
1.Tema
Setiap fiksi haruslah mempunyai dasar atau tema yang merupakan sasaran tujuan. Penulis menuliskan watak para tokoh dalam karyanya dengan dasar tersebut. Dengan demikian tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa tema merupakan hal yang paling penting dalam seluruh cerita. Tema adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan mengenai kehidupan yang membentuk gagasan utama dari suatu karya sastra . jadi sederhananya tema adalah ide sebuah cerita yang dituangkan melalui tindakan-tindakan tokoh cerita itu terutama tokoh utama. Tema yang baik harus bersama di dalam unsur cerita.
2. Alur
Alur adalah rangkaian cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminuddin 2002: 83). Menurut Wikipedia rangkaian yang direka dan dijalin sedemikian rupa sehingga menggerakan jalan cerita dan menentukan awal, tengah, dan akhir cerita. adanya alur disebabkan oleh terbentuknya kekuatan-kekuatan yang terjadi karena adanya problema yang perlu diselesaikan.

B. MACAM-MACAM ALUR
1.Alur maju
adalah peristiwa –peristiwa diutarakan mulai awal sampai akhir/masa kini menuju masa datang.

2.   Alur mundur/Sorot balik/Flash back
adalah peristiwa-peristiwa yang menjadi bagian penutup diutarakan terlebih dahulu/masa kini, baru menceritakan peristiwa-peristiwa pokok melalui kenangan/masa lalu salah satu tokoh.

3.   Alur gabungan/Campuran
adalah peristiwa-peristiwa pokok diutarakan. Dalam pengutararaan peristiwa-peristiwa pokok, pembaca diajak mengenang peristiwa-peristiwa yang lampau,kemudian mengenang peristiwa pokok ( dialami oleh tokoh utama) lagi.
Tokoh
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya dalam peristiwa dalam kehidupan sehari-hari selalu diemban oleh tokoh-tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita disebut tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh disebut penokohan. Pada umumnya tokoh dalam cerita biasanya diisi dengan manusia, tetapi dapat pula tokoh yang berwujud binatang, benda-benda, tumbuhan, dewa, jin, dan roh. Sesuai kemauan penulis.
Tokoh dalam cerita fiksi dapat dibedakan beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut nama penamaan itu dilakukan. Tokoh utama atau tokoh protagonis adalah tokoh yang diutamakan penceritanya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Sedangkan tokoh kedua atau tokoh antagonis adalah pelaku yang menyambungi atau membayang-bayangi bahkan menjadi musuh tokoh utama. Tokoh yang menjadi penyebab terjadinya konflik biasanya disebut tokoh antagonis. Tokoh protagonis secara langsung ataupun tidak langsung ia bersifat fisik atau batin.
A.Pelaku utama
adalah pelaku yang memegang peranan utama dalam cerita dan selalu hadir/muncul pada setiap satuan kejadian.

B.  Pelaku pembantu
adalah pelaku yang berfungsi membantu pelaku utama dalam cerita.Bisa bertindak sebagai pahlawan mungkin juga sebagai penentang pelaku utama.
C.Pelaku protagonis
adalah pelaku yang memegang watak tertentu yang membawa ide kebenaran.(jujur,setia,baik hati dll)
D.  Pelaku antagonis

adalah pelaku yang berfungsi menentang pelaku protagonis (penipu, pembohong dll)
E.  Pelaku tritagonis
adalah pelaku yang dalam cerita sering dimunculkan sebagai tokoh ketiga yang biasa disebut dengan tokoh penengah.
Penokohan
Penokohan yang ditemukan dalam cerita fiksi adalah pelaku imajinatif, pelaku yang ada dalam benak pengarang. Pelaku imajinatif itu tidak akan dijumpai sekalipun dicari di seluruh dunia. Pelaku imajinatif tidak dapat ditangkap oleh alat indera. Ia hanya dapat ditangkap oleh daya imajinasi seseorang melalui raut muka, bentuk tubuh dan perilakunya. Karakter tokoh atau pelaku dapat dikenal lewat penggambaran baik yang dilakukan pengarang pencerita maupun oleh pelaku. Jadi, penokohan atau karakter adalah pengembangan watak yang meliputi pandangan, perilaku, keyakinan dan kebiasaan yang dimiliki para tokoh yang mempunyai tempat tersendiri dalam suatu karya sastra.

ADA TIGA CARA UNTUK MELUKISKAN WATAK TOKOH
A.Analitik
adalah pengarang langsung menceritakan watak tokoh.
Contoh :
Siapa yang tidak kenal Pak Edi yang lucu, periang, dan pintar. Meskipun agak   pendek justru melengkapi sosoknya sebagai guru yang diidolakan siswa. Lucu dan penyanyang.

B.  Dramatik
adalah pengarang melukiskan watak tokoh dengan tidak langsung.
Bisa melalui tempat tinggal,lingkungan,percakapan/dialog antartokoh, perbuatan, fisik dan tingkah laku, komentar tokoh lain terhadap tokoh tertentu, jalan pikiran tokoh.
Contoh :

Begitu memasuki kamarnya Yayuk, pelajar kelas 1 SMA itu langsung melempar tasnya ke tempat tidur dan membaringkan dirinya tanpa melepaskan sepatu terlebih dahulu. (tingkah laku tokoh)

C. Campuran
adalah gabungan analitik dan dramatik.
Pelaku dalam cerita dapat berupa manusia , binatang, atau benda-benda mati yang     diinsankan
Latar/setting
Latar adalah keterangan mengenai penggambaran waktu, ruang dan suasana terjadinya suatu kejadian atau situasi peristiwa. Hudson (dalam Nurasiah 2006: 14), membedakan latar sosial dan latar fisik. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan mastarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikap-sikapnya, adat, kebiasaan, cara hidup, bahasa dan sebagainya yang melatari peristiwa. Adapun yang dimaksud latar fisik adalah tempat wujud fisiknya, yaitu bangunan, daerah, dan sebagainya.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa latar adalah segala mengenai waktu dan ruang (tempat), dan suasana terjadinya peristiwa serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis yang dilukiskan dalam suatu karya sastra. Sebuah karya sastra yang berlatar lengkap memiliki aspek-aspek tersebut sehingga jelas kepada pembaca tentang kapan, di mana, dam bagaimana peristiwa itu diceritakan terjadi.
A.latar tempat
adalah latar dimana pelaku berada atau cerita terjadi (di sekolah, di kota, di ruangan dll)
2.   Latar waktu
adalah kapan cerita itu terjadi ( pagi, siang,malam, kemarin, besuk   dll)
3.   Latar suasana
adalah dalam keadaan dimana cerita terjadi. (sedih, gembira, dingin, damai, sepi dll)
Sudut Pandang (Point of view)
Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan pelaku dalam cerita termasuk diri pengarang itu sendiri. Sudut pandang cerita itu menyatakan bagaiman fungsi pengisah (pengarang) dalam sebuah cerita, apakah ia mengambil seluruh bagian langsung dalam seluruh peristiwa atau sebagai pengamat terhadap objek dari seluruh tindakan-tindakan dalam cerita itu. Pengarang dapat bertindak sebagai tokoh utama yaitu mengisahkan adegan dengan menggunakan kata ganti orang pertama (aku, kami). Pengarang dapat juga sebagai pengamat dengan menggunakan kata ganti orang kedua (kau, kamu).
Sudut pandang adalah posisi/kedudukan pengarang dalam membawakan cerita.
Sudut pandang dibedakan atas :
1.Sudut pandang orang kesatu
adalah pengarang berfungsi sebagai pelaku yang terlibat langsung dalam cerita, terutama sebagai pelaku utama. Pelaku utamanya(aku, saya, kata ganti orang pertama jamak : kami, kita)

2.  Sudut pandang orang ketiga
adalah pengarang berada di luar cerita, ia menuturkan tokoh-tokoh di luar, tidak terlibat dalam cerita. Pelaku utamanya (ia, dia, mereka,kata ganti orang ketiga jamak, nama-nama lain)
Amanah
Amanah adalah gagasan yang mendasari karya sastra atau pesan moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar.
Berikut telah dijelaskan tentang unsur instrinsik, jadi semua yang terjadi dalam cerita itu dinamakan instrinsik. Sedangkan unsur-unsur ekstrinsik karya sastra adalah unsur- unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra.

B. Eksentrik
Yang dimaksud dengan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang membangun suatu karya sastra dari luar, unsur ekstrinsik seperti latar belakang pembuatan karya sastra, latar belakang penulis, dan Kondisi sosial budaya. Unsur ekstrinsik tidak kalah penting dari unsur intrinsik karena sama-sama membangun suatu karya sastra seperti cerpen, novel, dsb. Bedanya jika unsur intrinsik membangun struktur cerita dari dalam seperti tema, alur, amanat, penokohan, latar, dan sudut pandang penulis. Dengan adanya unsur ekstrinsik maka karya sastra yang telah di buat bisa menjadi lebih bermakna.
Berikut ini beberapa unsur ekstrinsik yang membangun suatu karya sastra, contohnya seperti:

a. Latar Belakang Pembuatan Karya Sasta
Yaitu alasan mengapa penulis ingin membuat karya sastra tersebut atau motivasi apa yang membuat penulis ingin menulis suatu cerita. Faktor ini tentu selalu ada pada setiap karya sastra seperti novel atau cerpen, karena faktor ini lah yang membuat penulis ingin menulis dan menyelesaikan suatu karya sastra.
b. Latar belakang penulis
Yaitu segala hal yang berkaitan dengan asal-usul penulis, termasuk pendidikan, kependudukan, agamanya, hingga kondisi psikologisnya. Dapat di katakan faktor ini datang dari diri penulis sendiri. Tentunya unsur ini dapat mempengaruhi suatu karya sastra, misalnya novel dari negara lain maka akan berbeda dari novel yang di buat orang Indonesia.

c. Kondisi Sosial Budaya

Selain latar belakang penulis, kondisi sosial dan budaya juga dapat mempengaruhi suatu karya sastra yang di buat. Faktor ini datangnya dari lingkungan masyarakat atau tempat penulis tinggal,seperti ideologi, kondisi politik, kondisi ekonomi, kondisi sosial, dsb.  Misalnya seperti novel jaman dahulu pasti ada perbedaan dengan novel jaman sekarang, atau novel yang di tulis oleh orang metropolitan pasti akan memiliki perbedaan dari novel orang yang tinggal di daerah yang bukan metropolitan seperti pedesaan, perbedaan tersebut bisa berupa dari segi penulisan, penyampaian, dsb.

Sebenarnya masih ada contoh lainnya yaitu Nilai-Nilai Yang Terkandung Pada Karya Sastra, yang dapat di ambil penulis dari luar sehingga di terapkan pada tulisannya, misalnya seperti nilai moral, nilai agama, nilai sosial dan budaya.

pengintai senja

aku...
yg setiap hari menantika kedatanganmu
kuharap masalahku cepat berlalu
kuharap deritaku kian berlabu
nyatanya aku semakin menderita
nyatanya aku semakin sengsara
ku intai senja
ku harap ia tak pergi
nyatanya ialah yg berlalu meninggalkan daku
rindu ini hanya bisa ku bisikkan di sepertiga malam yg indah
tak mampu aku lontarkan hanya senja yg menjadi saksi bisu cintaku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar