A. Definisi Dan Hakikat Sastra
Kata sastra itu berasal dari bahasa jawa kuna yang berarti tulisan. Istilah dalam bahasa jawa kuna berarti “tulisan-tulisan utama”. Yang dimaksud tulisan tulisan utama bisa jadi tulisan yang memiliki keindahan. Sementara itu, kata “sastra” dalam khazanah jawa kuna berasal dari bahasa sansekerta yang berarti kehidupan. Dalam kata “sastra” (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstr adalah bentukan dari akar kata ‘sas’ yang berarti mengarahkan, mengajar atau memberi petunjuk atau istruksi. Sementara itu, akhiran tra biasanya menunjukkan alat atau sarana. Dengan demikian sastra berarti alat atau sarana untuk mengajar.
Dalam bahasa Indonesia dikenal istilah “kesusastraan”. Kata kesusastraan merupakan bentuk dari konfiks ke-an dan susastra. Menurut Teeuw, kata susastra berasal dari bentuk su + sastra. Kata sastra dapat diartikan sebagai alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi, atau pengajaran. Awalan su- pada kata susastra berarti “baik, indah” sehingga susastra berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi, atau pengajaran yang baik dan indah. Kata susastra merupakan ciptaan Jawa atau Melayu karena kata susastra tidak terdapat dalam bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno.
Konfiks ke-an dalam bahasa Indonesia menunjukkan pada “kumpulan” atau “hal yang berhubungan dengan”. Secara etimologis istilah kesusastraan dapat diartikan sebagai kumpulan atau hal yang berhubungan dengan alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran, yang baik dan indah. Bagian “baik dan indah” dalam pengertian kesusastraan menunjuk pada isi yang disampaikan (hal-hal yang baik; menyarankan pada hal yang baik) maupun menunjuk pada alat untuk menyampaikan, yaitu bahasa (sesuatu disampaikan dengan bahasa yang indah).
Banyak batasan Mengenai definisi sastra, antara lain:
1.Sastra adalah seni.
sastra adalah ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam.
sastra adalah ekspresi pikiran dalam bahasa, sedang yang dimaksud dengan pikiran adalah pandangan, ide-ide, perasaan pemikiran, dan semua kegiatan mental manusia.
sastra adalah inspirasi kehidupan yang dimaterikan (diwujudkan) dalam sebuah bentuk yang mempesona.
Berikut ini pengertian sastra menurut para Ahli:
a. Menurut djoko damono (1979)
yang memaparkan bahwa sastra adalah lembaga social seperti Masyarakat social yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan hasil ciptaan social. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan social. Dalam pegertian ini mencakup hubungan antar masyarakat, antara masyarakat dengan orang—seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang, yang sering menjadi bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat.
b. George lukas
berpendapat bahwa sastra merupakan sebuah cermin yang memberikan kepada kita sebuah refleksi realitas yang lenih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik.
Rene wellek dan Austin werren
Dalam teori kesustraannya menyebutkan bahwa satra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak.
Mursal Esten (1978 : 9)
2. Sastra atau Kesusastraan
adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia. (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).
Semi (1988 : 8 )
Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya.
Panuti Sudjiman (1986 : 68)
3.Sastra sebagai karya lisan atau tulisan
yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapanya.
Ahmad Badrun (1983 : 16)
Kesusastraan adalah kegiatan seni yang mempergunakan bahasa dan garis simbol-simbol lain sebagai alai, dan bersifat imajinatif.
Eagleton (1988 : 4)
Sastra adalah karya tulisan yang halus (belle letters) adalah karya yang mencatatkan bentuk bahasa. harian dalam berbagai cara dengan bahasa yang dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan dan diterbalikkan, dijadikan ganjil.
Plato
4. sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.
Aristoteles
Sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat.
Robert Scholes (1992: 1)
berpendapat bahwa tentu saja, sastra itu sebuah kata, bukan sebuah benda.
Sapardi (1979: 1)
Memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social.
Taum (1997: 13)
Sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif” atau “sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain”
Dapat disimpulkan bahwa sastra adalah suatu bentuk, baik itu berupa benda ataupun tulisan yang memiliki nilai keindahan.
Sifat Sastra
Sifat-sifat khas sastra muncul sangat jelas bila dilihat dari aspek referensialnya (acuan), yaitu :
dunia fiksi atau imajinasi.
Fiksionalitas
Ciptaan
Kreasi
Sifat-sifat khas sastra muncul paling jelas bila dilihat dari aspek referensialnya (acuan). Mari kita menengok genre sastra tradisional seperti lirik, epik, dan drama. Dalam ketiga jenis sastra itu, acuannya adalah dunia fiksi atau imajinasi. Pernyataan dalam sebuah novel, puisi, atau drama, tidak dapat dianggap benar secara harfiah, dan juga bukan merupakan proposisi logis. Ada perbedaan yang mendasar dan penting antara pernyataan dalam novel sejarah atau novel Balzac (sastrawan Prancis) yang tampak menyampaikan “informasi” tentang kejadian nyata, dan pernyataan sama yang muncul dalam buku sejarah dan sosiologi. Bahkan dalam lirik subjektif, “aku” penyair bersifat rekaan, yaitu “aku” dramatik. Seorang tokoh dalam novel berbeda dengan tokoh sejarah atau tokoh yang hidup. Tokoh novel muncul dari kalimat-kalimat yang mendeskripsikannya, dan dari kata-kata yang diletakkan di bibirnya oleh si pengarang. Di luar karya sastra, tokoh itu tidak mempunyai masa lalu, masa depan, dan kontinuitas hidup. Bagaimanapun besarnya perbedaan The Tempest (drama-bersajak karangan Shakespeare) dan A Doll’s House(drama realistis Hendrik Ibsen), namun keduannya sama-sama mengikuti konvensi drama.Kalau kita memegang “fiksionalitas”, “ciptaan”, dan “imajinasi” sebagai ciri-ciri khas sastra, mungkin kita mengacu pada karya-karya Homer, Dante, Shakespeare, Balzac, Keats, dan bukan pada karya-karya Cicero, Montagne, Bossuet, atau Emerson yang lebih bersifat filosofis. Ada karya yang berada di antara kedua kutub ini, seperti karya Plato, Republic. Meskipun pada dasarnya Republic adalah karya filsafat, beberapa bagian (yang menguraikan mitos-mitos besar) ternyata rekaan.
Perbedaan sastra dan nonsastra yang sudah kita bicarakan—organisasi, ekspresi pribadi, pengolahan dan penyampaian melalui medium, tujuan yang tidak praktis, fiksionalitas—sebenarnya merupakan pengulangan dari istilah-istilah estetika yang sudah tua seperti “kesatuan dalam keragaman” (unity in variety), “kontemplasi objektif” (disinterested contemplation), “distansi estetis (aesthetic distance), “penyusunan kerangka seni (framing), “ciptaan”, “imajiansi”, dan “kreasi”. Tiap istialh mengacu pada salah satu aspek karya sastra, satu sifat khas dari kecenderungan semantis karya sastra. Tidak satu pun istilah di atas dengan sempurna merangkan sifat sastra. Tapi paling tidak, ada sebuah kesan umum yang timbul: karya satra bukan objek yang sederhana, melainkan objek yang kompleks dan rumit.
B. Fungsi sastra
Fungsi sastra harus sesuai dengan sifatnya yakni menyenangkan dan bermanfaat. Kesenangan yang tentunya berbeda dengan kesenangan yang disuguhkan oleh karya seni lainnya. Kesenangan yang lebih tinggi, yaitu kontemplasi yang tidak mencari keuntungan. Dan juga memberikan manfaat keseriusan. Keseriusan yang menyenangkan, estetis dan keseriusan persepsi. Sehingga ini berarti karya sastra tidak hanya memberikan hiburan kepada peminatnya tetapi juga tidak melupakan keseriusan pembuatnya.
Selain menampilkan unsur keindahan, hiburan dan keseriusan, karya sastra juga cenderung membuktikan memiliki unsur pengetahuan. Contohnya puisi, keseriusan puisi terletak pada segi pengetahuan yang disampaikannya. Jadi puisi dianggap sejenis pengetahuan. Lain lagi dengan novel. Para novelis dapat mengajarkan lebih banyak tentang sifat-sifat manusia daripada psikolog. Karena novelis mampu mengungkapkan kehidupan batin tokoh - tokoh pada novel yang ditulisnya. Sehingga ada yang berpendapat bahwa novel - novel bisa dijadikan sumber bagi para psikolog atau menjadi kasus sejarah yang dapat memberikan ilustrasi dan contoh. Bahkan bisa dikatakan bahwa novelis menciptakan dunia yang mengandung nilai kebenaran dan pengetahuan sistematis yang dapat dibuktikan.
Berikut ini merupakan fungsi-fungsi sastra menurut para ahli:
Budianta, dkk. Berpendapat bahwa sastra berfungsi memberikan kesenangan atau kenikmatan kepada pembacanya. Kadang-kadang dengan membaca sastra justru muncul ketegangan-ketegangan, dan dari ketegangan-ketegangan itulah diperoleh kenikmatan estetis yang aktif. Adakalanya dengan membaca sastra kita terlibat secara total dengan apa yang dikisahkan. Dalam keterlibatan itulah justru kemungkinan muncul kenikmatan estetis dan bersifat menghibur. Menghibur bukan berarti membuat terpingkal-pingkal karena fidak dapat menahan tawanya. Namun, lebih pada kepuasan batin ketika mengikuti alur cerita atatu menikmati keindahan penggunaan bahasa dalam memaparkan aspek-aspek kehidupan. Memang ada pengarang yang mempersentasikan karyanya sebgai hiburan dalam artian membuat pembaca hanyut dalam tawanya. Namun karya-karya seperti ini justru dicap sebagai bukan sastra.
Luxemberg, dkk. Berpendapat bahwa Sastra berfungsi memberikan kebermanfaatan secara rohaiah. Dengan membaca sastra, kita memperoleh wawasan yang dalam tentang masalah manusiawi, social, maupun intelektual dengan cara yang khusus
Herman J. Waluyo. Menyatakan bahwa sastra berfungsi sebagai wahana katarsis, yaitu pencerahan jiwa atau penyadaran jiwa terhadap lingkungan masyarakat terhadap keterbatasan individu yang seringkali melabrak posisi tuhan.
Wellek dan Warren(26) menjelaskan bahwa fungsi sastra dalah sebagai berikut:
a). Sebagai hiburan. Karya sastra adalah “pemanis” dalam kehidupan masyarakatsebab memberikan fantasi-fantasi yang menyenangkan bagi si pembaca. Karena seabagai hiburan, dampak yang diperoleh adalah rasa senang.
b). Sebagai renungan. Karya sastra difungsikan sebagai media untuk merenungkan nilai-nilai terdalam dari pembaca. Karena karya sastra berisi pengamalan-pengalaman manusia, maka pengalaman itu diungkapkan sedemikian rupa untuk memperoleh sari pati yang diinginkan.
c). Sebagai bahasan pelajaran. Karya sastra difungsikan ditengah-tengah masyarakat sebagai media pembelajaran bagi masyarakat. Karya sastra menuntun individu untuk menemukan nilai yang diungkapkan sebagai benar dan salah. Karya sastra dikatakan sebagai “indah dan berguna” atau dulce et utile.
d) Sebagai media komunikasi simbolik. Luxemburg menyatakan bahwa karya seni adalah sebuah media yang dipergunakan untuk menjalin hubungan dengan dunia dan sekitarnya. Karena ini komunikasi simbolik, maka para penerima tidak bisa langsung menerjemahkan kata sebagaimana denotative, tetapi harus menggunakan instrument konotatif.
e). Sebagai pembuka paradigma berfikir. Sastra menurut bronowski dijadikan sebagai media untuk membuka cakrawala masyarakat yang terkungkung oleh semangat zaman yang tidak disadarinya. Sastra menyadarkan masyrakat yang selama ini merasa berada dalam kenyataan yang sesungguhnya padahal sebetulnya hanya berada pada pada intensitas yang mirip dengan kenyataan (kuasi-kenyataan).
jalan cinta kita berbeda
ku terlanjur mencintaimu
aku bahkan tak menyadari kalau ini cinta yg salah
menharapkanmu hanyalah dusta belaka
tak ada jalan untuk kita bersama
izinkan aku tuk berkata
izinkan aku tuk mengatakan hal yg sejujurnya
bahwa cinta kita ini salah
bahwa cinta kita ini dusta
jalan cinta kita berbeda
jalan cinta kita tak sama
tuhan tak mungkin menyatukan kita
dunia dan seisinya sebagai saksi bisu cinta ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar